Mengapa Masih Banyak Orang Meninggalkan Pasangan Yang Dicintainya

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Kamis, 13 Februari 2025 | 10:30 WIB
ilustrasi seorang pria tinggalkan pasangan yang dicintainya (deposit photos)
ilustrasi seorang pria tinggalkan pasangan yang dicintainya (deposit photos)

KLIK SAJA - Banyak orang menganggap cinta sebagai aspek terpenting dalam pernikahan, menggambarkan kepercayaan yang berlaku umum bahwa cinta adalah semua yang kita butuhkan dan mengatasi semua rintangan.

Namun, banyak kasus orang yang meninggalkan pasangan yang masih mereka cintai menentang gagasan ini, menekankan pentingnya kecocokan secara tradisional, landasan pernikahan yang diatur.

Ketika cinta dan kecocokan terjalin, pernikahan akan berkembang, tetapi ketika tidak ada, pernikahan akan sangat berisiko.

Baca Juga: Cara Mudah Mengelola Rasa Takut dan Rasa Cemas Pada Masa Depan

Pernikahan secara tradisional merupakan pengaturan praktis, yang dirancang untuk memungkinkan pasangan memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Karena itu, kriteria utama pernikahan adalah kecocokan, yaitu, apakah kedua pasangan dapat meningkatkan ikatan mereka dengan saling menonjolkan yang terbaik.

Kecocokan atau kesesuaian semacam itu nyatanya dapat terjadi tanpa cinta.

Jadi pertanyaannya, bagaimanakah sesungguhnya memaknai arti ‘cinta’ itu?

Stephanie Coontz, seorang pakar pernikahan AS, mengatakan bahwa cinta romantis baru muncul sekitar 200 tahun yang lalu: “Orang-orang selalu jatuh cinta, dan sepanjang masa banyak pasangan saling mencintai dengan dalam.

Namun, hal menarik dalam sejarah, cinta jarang sekali dianggap sebagai alasan utama untuk menikah” (Coontz, 2005).

Sebelum menjadikan cinta romantis penting bagi pernikahan, pernikahan pada umumnya stabil.

Cinta telah meningkatkan kualitas pernikahan tetapi juga membuatnya kurang stabil alias rentan.

Hubungan romantis tidak melayang bebas di udara; mereka terhubung erat pada kerangka kehidupan, di mana kecocokan sangatlah penting.

Manakah di antara keduanya yang lebih diutamakan? Ini bisa jadi keputusan yang sulit.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Psychology Today

Tags

Rekomendasi

Terkini

X