KLIK SAJA - Di tepian Danau Sentani yang tenang, di tengah kehidupan masyarakat adat yang masih memegang teguh tradisi leluhur, terdapat sebuah ritual yang sarat emosi dan makna.
Tradisi itu dikenal sebagai Helaehili, lantunan ratapan yang mengiringi kepergian seseorang menuju peristirahatan terakhir.
Bagi masyarakat Sentani di Kabupaten Jayapura, Papua, Helaehili bukan sekadar tangisan.
Ia adalah bahasa cinta, penghormatan, dan kenangan yang dilantunkan untuk mengenang kehidupan seseorang yang telah berpulang.
Saat prosesi pemakaman berlangsung, keluarga dan masyarakat mengiringi jenazah dengan melambaikan dedaunan serta bunga-bunga.
Di saat yang sama, terdengar suara ratapan dalam bahasa Sentani yang mengalun penuh haru. Lantunan itulah yang disebut Helaehili.
Secara harfiah, Helaehili berarti "tangisan" atau "ratapan". Namun, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar ungkapan duka.
Melalui Helaehili, keluarga dan kerabat menceritakan kembali perjalanan hidup orang yang meninggal.
Kisah-kisah tentang kebaikan, perjuangan, pengorbanan, hingga jasa-jasa yang pernah diberikan kepada keluarga dan masyarakat dituangkan dalam untaian kata yang lahir secara spontan.
Baca Juga: Memaknai Filosofi Tradisi Bakar Batu Papua, Bukan Sekedar Pesta Babi Semata
Tidak ada naskah yang disiapkan sebelumnya. Tidak ada kalimat yang dihafalkan.
Semua yang diucapkan muncul dari ingatan, rasa kehilangan, dan penghormatan yang tulus kepada mereka yang telah pergi.
Karena sifatnya yang spontan, setiap lantunan Helaehili memiliki keunikan tersendiri. Tidak ada dua ratapan yang benar-benar sama. Setiap syair menjadi cerminan hubungan emosional antara pelantun dan sosok yang dikenangnya.
Bagi masyarakat Sentani, Helaehili merupakan bentuk penghormatan terakhir dari keluarga dan masyarakat kepada orang yang meninggal dunia.