Mengenal Tradisi Helaehili Pada Masyarakat Sentani, Ritual Ratapan Penghormatan Jenazah Penuh Syair Mengharukan

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Sabtu, 20 Juni 2026 | 01:40 WIB
Ilustrasi tradisi Helaehili (cnn)
Ilustrasi tradisi Helaehili (cnn)

Melalui ratapan tersebut, mereka tidak hanya menyampaikan rasa kehilangan, tetapi juga mengabadikan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh almarhum semasa hidupnya.

Lebih dari itu, Helaehili juga berfungsi sebagai pesan bagi mereka yang masih hidup. Kisah-kisah tentang kebaikan, kerja keras, dan keteladanan yang dilantunkan dalam ratapan menjadi pengingat agar generasi berikutnya dapat meneladani sifat-sifat baik tersebut.

Dengan kata lain, Helaehili tidak hanya berbicara tentang kematian, tetapi juga tentang kehidupan.

Tidak semua orang mampu melantunkan Helaehili.

Biasanya, pelantun berasal dari kalangan kerabat dekat atau orang-orang yang mengenal baik sosok yang meninggal.

Dalam tradisi Sentani, kemampuan melantunkan Helaehili umumnya dimiliki oleh para abu enime, yakni kaum tua yang memiliki pengetahuan mendalam tentang sejarah keluarga dan adat istiadat.

Mereka menjadi penjaga memori kolektif masyarakat, mampu mengisahkan perjalanan hidup seseorang melalui syair-syair yang menyentuh hati.

Baca Juga: Ngeri dan Mengharukan! Ada Tradisi Potong Jari dari Suku Dani di Pegunungan Papua, Simbol Kesetiaan Keluarga

Durasi Helaehili pun berbeda-beda. Ada yang berlangsung hanya beberapa jam, tetapi ada pula yang berlangsung hingga tiga hari tiga malam.

Lama tidaknya prosesi bergantung pada beberapa hal, seperti status sosial orang yang meninggal, jumlah pelantun yang tersedia, serta jasa dan kebaikan yang pernah dilakukan semasa hidupnya.

Semakin besar pengaruh dan jasa seseorang bagi masyarakat, biasanya semakin panjang pula Helaehili yang dilantunkan untuknya.

Salah satu hal menarik dari tradisi Helaehili adalah bagaimana ritual ini menempatkan perempuan pada posisi yang sangat istimewa.

Dalam banyak lantunan Helaehili, sosok perempuan menjadi bagian penting yang sering diceritakan dan dikenang.

Masyarakat Sentani memandang perempuan sebagai kani, atau bumi, yang menjadi sumber kehidupan bagi keluarga dan komunitas.

Perempuan Sentani dipandang memiliki peran yang sangat kompleks. Dalam kehidupan keluarga, mereka adalah yonelau, sosok yang mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, dan mendidik anak-anak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X