Di sinilah kepekaan artistiknya semakin terasah. Bersama tokoh-tokoh besar seperti Abu Hanifah, Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, Sudjojono, dan H.B. Jassin, ia mendirikan kelompok sandiwara Maya—sebuah ruang kreatif yang kelak membentuk karakter karya-karyanya.
Dari Jurnalisme ke Layar Lebar
Pasca Proklamasi Kemerdekaan, Usmar terjun ke dunia militer sekaligus aktif sebagai jurnalis di Jakarta.
Bersama Syamsuddin Sutan Makmur dan Rinto Alwi, ia mendirikan surat kabar Rakyat.
Ketika berpindah ke Yogyakarta, ia kembali berkarya di dunia penerbitan dengan mendirikan harian Patriot serta majalah bulanan Arena.
Pada tahun 1948, ketika bertugas sebagai wartawan politik Kantor Berita Antara dan meliput perundingan Belanda–RI di Jakarta, Usmar sempat ditangkap dan dipenjara oleh pihak Belanda dengan tuduhan aktivitas subversif.
Baca Juga: Mengenal Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Pahlawan Nasional Konseptor Wawasan Nusantara
Pengalaman-pengalaman inilah yang kemudian memberi “nyawa” pada dialog dan skenario film-filmnya. Bagi Usmar, cerita adalah raja, dan visual adalah pelayan.
Namun, dunia sandiwara dirasa belum cukup menjangkau masyarakat luas.
Usmar melihat film sebagai medium dengan daya jangkau luar biasa—alat yang ampuh untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan di tengah bangsa yang baru lahir.
Perfini dan Lahirnya Identitas Film Nasional
Pada 30 Maret 1950, Usmar Ismail mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini), perusahaan film pertama milik pribumi yang berdiri di Jakarta.
Pada hari yang sama pula, ia memulai pengambilan gambar film Darah dan Doa, yang kemudian dikenang sebagai film Indonesia pertama yang sepenuhnya digarap oleh anak bangsa.
Film ini mengisahkan perjalanan long march Divisi Siliwangi dari Yogyakarta kembali ke Jawa Barat.
Alih-alih menampilkan heroisme semu, Usmar justru menyoroti sisi manusiawi para tentara—keraguan, ketakutan, dan cinta di tengah revolusi.