edukasi

Ini Dia Kakapo, Burung Kakatua yang Tak Bisa Terbang dan Diambang Kepunahan Asal Selandia Baru

Minggu, 12 Oktober 2025 | 15:20 WIB
Perbandingan ukuran Kakapo yang sangat besar dengan manusia (pbs.org)

KLIK SAJA - Besar, hijau dan aneh, apakah itu? kita mungkin berpikir itu adalah Hulk, namun di Selandia Baru, orang menyebutnya Kakapo.

Kākāpō adalah burung beo besar atau kakatua yang tidak bisa terbang, aktif di malam hari, dan memiliki cara kawin unik yang disebut lek-breeding.

Burung ini benar-benar sangat besar dan aneh—dan juga salah satu burung paling langka di dunia.

Dahulu, sebelum manusia datang, kākāpō tersebar luas di hutan-hutan Selandia Baru.

Namun, kehadiran mamalia predator yang dibawa manusia membuat populasinya anjlok drastis hingga hanya tersisa sekitar 50 ekor pada pertengahan tahun 1990-an.

Upaya penyelamatan besar-besaran kemudian dilakukan.

Seluruh populasi kākāpō dipindahkan ke pulau-pulau bebas predator, dan setiap tahap kehidupannya dikelola dengan sangat ketat. Berkat dedikasi para konservasionis, jumlah kākāpō kini perlahan meningkat.

Baca Juga: Mengenal Green Pheasant, Burung Nasional Jepang yang Sarat Makna dan Legenda

Menariknya, kākāpō tidak memiliki kerabat dekat di antara burung beo lainnya—menjadikannya spesies yang benar-benar unik di dunia.

Ciri-Ciri dan Identifikasi

Kākāpō adalah burung beo besar yang hidup di hutan, tidak bisa terbang, dan memiliki wajah pucat menyerupai burung hantu.

Bulu tubuhnya berwarna hijau lumut dengan corak kuning dan hitam di bagian atas, serta lebih kekuningan di bagian bawah.

Paruhnya berwarna abu-abu, sementara kaki dan telapak kakinya berwarna abu-abu pucat.

Suara kākāpō juga sangat khas. Jantan mengeluarkan suara “booming”—dengungan dalam dan bergetar—serta “chinging”, siulan serak untuk menarik perhatian betina di area lek-nya.

Halaman:

Tags

Terkini