Strategi ini efektif terhadap burung pemangsa yang mengandalkan penglihatan, tetapi tidak berguna melawan mamalia predator yang berburu dengan penciuman.
Kākāpō juga menghadapi masalah keragaman genetik yang sangat rendah, yang menyebabkan tingkat kesuburan rendah.
Karena itu, konservasionis kini menggunakan inseminasi buatan dan pengaturan perkawinan untuk meminimalkan kehilangan genetik.
Perkembangbiakan
Kākāpō berkembang biak pada musim panas hingga gugur, tetapi hanya pada tahun-tahun ketika buah hutan melimpah.
Di wilayah selatan Selandia Baru, mereka biasanya berkembang biak ketika pohon rimu berbuah, yaitu setiap dua hingga empat tahun sekali.
Di daerah lain, kemungkinan pemicu kawin adalah musim berbuahnya pohon beech, meski di wilayah utara seperti Hauturu, penyebab pastinya masih belum diketahui.
Kākāpō adalah burung lek breeder, artinya jantan menarik betina dengan memanggil dari area khusus berupa jalur dan lubang-lubang kecil di tanah.
Setelah kawin, jantan tidak berperan sama sekali dalam mengerami telur atau merawat anak.
Sarang biasanya dibuat di lubang tanah, batang kayu busuk, atau di bawah semak lebat, dengan 1–4 butir telur yang dierami dalam cekungan dangkal di tanah atau kayu lapuk.
Perilaku dan Ekologi
Kākāpō adalah hewan malam dan soliter, sering menempati wilayah yang sama selama bertahun-tahun.
Mereka mencari makan di tanah dan juga memanjat pohon tinggi. Kadang mereka melompat dari dahan dan mengepakkan sayap—namun hanya mampu melayang turun dengan terkendali, bukan benar-benar terbang.
Kākāpō sepenuhnya herbivora. Mereka memakan daun, tunas, bunga, pucuk pakis, kulit kayu, akar, umbi, buah, dan biji-bijian, dengan pola makan yang berubah sesuai musim.
Kākāpō adalah simbol perjuangan besar konservasi modern: burung yang dulu hampir punah kini perlahan bangkit berkat dedikasi, teknologi, dan kasih manusia terhadap alam.