KLIK SAJA – Selama ini kita banyak mengenal budaya duel Carok di tanah Madura yang terkenal keras watak orangnya.
Namun selain Carok, masyarakat Madura juga mengenal tradisi duel lain yang tak kalah unik, yakni Ojhung.
Berbeda dengan Carok yang sering lahir dari persoalan sosial dan emosi, Ojhung lebih merupakan sebuah pertunjukan tradisional yang digelar pada musim kemarau panjang.
Sayangnya, tradisi yang sarat makna ini kini kian jarang dijumpai, bahkan hampir tenggelam di arus zaman.
Asal Usul dan Perubahan Ojhung
Sekilas, Ojhung tampak mirip dengan atraksi Pencak Silat secara gerakan atau bahkan serupa Anggar atau Kendo dari Jepang karena memakai senjata seperti pedang palsu.
Namun, sejatinya sangatberbeda. Jika Pencak Silat atau Mancak lahir sebagai kesenian elit keraton di perkotaan, Ojhung justru tumbuh dari budaya rakyat pegunungan.
Nilai yang terkandung pun berbeda. Ojhung bukan hanya simbol keberanian, melainkan juga sebuah ritual magis yang mempertautkan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.
Baca Juga: Mengenal Jemparingan, Olahraga Panahan Tradisional Khas Mataram Sambil Duduk Bersila
Konon, asal mula Ojhung bermula dari kisah sederhana. Dua lelaki desa terlibat perkelahian memperebutkan satu sumber mata air.
Dua orang lain hadir sebagai saksi sekaligus wasit. Belum sempat salah satu dari keduanya tumbang, hujan tiba-tiba turun deras, membasahi tanah kering.
Dari cerita yang diwariskan turun-temurun itulah, Ojhung kemudian dipercaya sebagai sarana untuk memanggil hujan, hingga akhirnya berkembang menjadi ritual sakral sekaligus atraksi seni yang ditampilkan di hadapan khalayak.
Teknik dan Pertunjukan Ojhung
Dalam praktiknya, Ojhung mempertemukan dua pemain yang ditengahi seorang wasit.