Masing-masing memegang tongkat dari rotan atau akar pohon siwalan, dililit serat nanas atau lapolo, lalu diikatkan ke tangan agar tidak mudah terlepas saat digunakan.
Kedua petarung mengenakan pelindung kepala dan tangan kiri dari kain goni, sementara tubuh mereka dibiarkan bertelanjang dada dengan sarung membalut celana pendek.
Pertarungan berlangsung dengan saling sabet, setiap pemain berusaha mengenai tubuh lawan dan menorehkan luka di kulitnya.
Dalam aturan Ojhung, pemenang bukan ditentukan dari siapa yang paling kuat memukul, melainkan siapa yang paling sedikit lukanya setelah duel berakhir.
Di beberapa tempat, para pemain Ojhung bahkan sama sekali tidak memakai pelindung kepala atau tangan.
Kini, meski tak lagi sepopuler dulu, Ojhung tetap menyisakan jejak sebagai warisan budaya Madura.
Menariknya, budaya Ojhung justru lebih populer di daerah Jawa Timur Tapal Kuda seperti Pasuruan atau Probolinggo ketimbang di Madura sendiri.
Ia bukan sekadar pertarungan fisik, melainkan perwujudan harmoni antara manusia, alam, dan doa yang mengalir dalam keringat serta luka para petarungnya.
Diharapkan kesenian Ojhung dapat dilestarikan kembali, karena mengandung nilai-nilai karakter budaya Madura yang terbuka apa adanya.***