KLIK SAJA - Abdul Qodir Jaelani, atau yang dikenal juga sebagai Abdul Qadir Gilani, adalah salah satu tokoh sufi paling dihormati dalam sejarah Islam, utamanya pada dunia Tasawuf.
Beliau memiliki gelar kehormatan Muḥi al-Dīn, yang berarti "penyegar agama".
Gelar ini sangat mencerminkan statusnya yang tinggi di mata banyak sufi sebagai seorang yang berjasa dalam menghidupkan kembali semangat keislaman.
Abdul Qadir Jaelani bahkan diklaim menduduki posisi tertinggi dalam hierarki para wali sufi setelah mencapai tingkatan (maqam) Ghawth, sebuah kedudukan spiritual yang sangat istimewa.
Beliau pernah menyatakan, "Kakiku diangkat di atas leher setiap wali Allah," merujuk pada kedudukannya sebagai Ghawth al-Azam (penolong utama).
Masa Awal dan Latar Belakang Keluarga
Abdul Qadir Jaelani lahir pada tahun 1077 atau 1078 Masehi. Ayahnya bernama Jangi Dost, sebuah nama yang menunjukkan akar keturunan Persia.
Nisbah (penyebutan asal) "Gilani" atau Jaelani merujuk pada wilayah Gilan, sebuah provinsi di Iran yang terletak di pantai barat daya Laut Kaspia.
Meskipun ada perdebatan mengenai tempat kelahirannya, sejarawan modern umumnya sepakat bahwa Jaelani lahir di Gilan, Iran.
Jaelani juga diklaim sebagai keturunan dari cucu Nabi Muhammad, Hasan ibn Ali.
Klaim ini diterima secara luas oleh komunitas Muslim, termasuk oleh tarekat Sufi Qadiri yang didirikan berdasarkan ajarannya.
Pendidikan dan Perjalanan Spiritual
Pada tahun 1095, Jaelani meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke Baghdad, pusat intelektual dan spiritual pada masa itu.
Di Baghdad, ia mulai mempelajari hukum Islam (fiqih) mazhab Hanbali di bawah bimbingan Abu Saeed Mubarak Makhzoomi dan Ibn Aqil.