Di samping itu, ia juga mempelajari hadis dari Abu Muhammad Ja'far al-Sarraj.
Guru spiritualnya dalam dunia tasawuf adalah Abu'l-Khair Hammad ibn Muslim al-Dabbas, seorang sufi terkenal pada masanya.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Jaelani menghabiskan waktu selama 25 tahun mengembara di padang pasir untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Selama periode ini, ia mengembangkan pemahaman mendalam tentang spiritualitas dan hukum Islam.
Walaupun ia dikenal sebagai seorang ahli fiqih Hanbali, ia juga menghormati mazhab Syafi'i dan sering memberikan fatwa berdasarkan kedua mazhab tersebut.
Kembali ke Baghdad dan Dakwah
Pada tahun 1127, Jaelani kembali ke Baghdad dan mulai aktif berdakwah.
Ia bergabung dengan staf pengajar di sekolah milik gurunya, al-Makhzoomi, dan segera menjadi populer di kalangan siswa.
Pada pagi hari, ia mengajar hadis dan tafsir Al-Quran, sementara pada sore hari, ia memberikan ceramah tentang ilmu hati (tasawuf) dan keutamaan Al-Quran.
Jaelani dikenal sebagai seorang pengkhotbah yang sangat meyakinkan.
Dakwahnya tidak hanya menarik umat Islam, tetapi juga banyak orang Yahudi dan Kristen yang akhirnya memeluk Islam.
Pendekatannya dikenal sangat inklusif dan penuh kasih sayang dalam menyampaikan ajaran Islam membuatnya dikagumi oleh banyak orang.
Kontribusi dan Warisan
Salah satu kontribusi terbesar Abdul Qadir Jaelani adalah pendirian Madrasah al-Qadiriyya di Baghdad.
Lembaga ini menjadi pusat pembelajaran dan spiritualitas Islam yang menarik siswa dari berbagai penjuru dunia.