Mengulik Sejarah Awal Gerakan Pramuka di Indonesia: Mulai Dari Kepanduan Hindia Belanda Hingga Keteladanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Rabu, 12 Agustus 2026 | 12:01 WIB
Sosok Sri Sultan Hamengkubowono IX, Bapak Pramuka Indonesia (Pramuka Jakarta)
Sosok Sri Sultan Hamengkubowono IX, Bapak Pramuka Indonesia (Pramuka Jakarta)

Lebih dari itu, sekat-sekat perbedaan wadah justru berisiko memicu ego sektoral dan fanatisme golongan yang tinggi.

Menyadari potensi perpecahan tersebut, Presiden Soekarno bersama Sri Sultan Hamengku Buwono IX (yang kala itu menjabat sebagai Pandu Agung) menggagas penyatuan seluruh wadah kepanduan ke dalam satu payung nasional: Pramuka.

Proses penyatuan ini melewati sejumlah milestone sejarah:

  • 9 Maret 1961 (Hari Tunas Gerakan Pramuka): Nama Pramuka dicanangkan dan disahkan secara resmi.
  • 20 Juli 1961 (Hari Ikrar Gerakan Pramuka): Bertempat di Istana Olahraga Senayan, para perwakilan organisasi kepanduan secara bulat menyatakan kesediaan untuk meleburkan diri.
  • 14 Agustus 1961 (Hari Pramuka): Gerakan Pramuka diperkenalkan secara megah kepada khalayak luas. Momen historis ini ditandai dengan penyerahan Panji Gerakan Pramuka dari Presiden Soekarno kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang sekaligus didapuk sebagai Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) pertama.

Keteladanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Atas kepemimpinan dan dedikasinya yang tanpa pamungkas, tanggal 14 Agustus kini dirayakan sebagai Hari Pramuka, dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX diabadikan sebagai Bapak Pramuka Indonesia.

Beliau menahkodai Kwarnas selama empat periode berturut-turut (1961–1974), menjadi pilar utama yang menghidupkan jiwa kepanduan pascakemerdekaan.

Pengabdian Sultan melampaui tugas-tugas formal birokrasi. Beliau dikenal sangat totalitas dalam mendukung pembinaan generasi muda.

Baca Juga: 5 Lomba Wajib Setiap Hari Pramuka Tiba: Momen Memupuk Kebersamaan, Kedisiplinan dan Ketangkasan

Ketika Kwarnas mengalami kesulitan dana operasional pada September 1974, Sultan turun tangan menggalang donasi dari kalangan pengusaha.

Bahkan, beliau dengan ikhlas merelakan mobil sedan pribadi kesayangannya, Holden Statesman keluaran 1974, untuk dilelang.

Seluruh hasil lelang mobil mewah tersebut langsung diserahkan utuh kepada panitia guna menyokong operasional kegiatan Pramuka.

Dedikasi luhur ini mengetuk rasa hormat dunia internasional. Pada tahun 1973, Komite Kepramukaan Sedunia (World Scouting) menganugerahkan Bronze Wolf Award kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Penghargaan tertinggi dalam gerakan kepanduan global ini tergolong sangat langka—hingga saat ini hanya dianugerahkan kepada sekitar 400 tokoh di seluruh dunia.

Sultan HB IX mencatatkan nama sebagai penerima Bronze Wolf Award pertama dari Indonesia, melukiskan tinta emas yang mengharumkan nama bangsa di kancah gerakan kepanduan dunia.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: pramuka.go.id

Tags

Rekomendasi

Terkini

X