Mengulik Sejarah Awal Gerakan Pramuka di Indonesia: Mulai Dari Kepanduan Hindia Belanda Hingga Keteladanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Rabu, 12 Agustus 2026 | 12:01 WIB
Sosok Sri Sultan Hamengkubowono IX, Bapak Pramuka Indonesia (Pramuka Jakarta)
Sosok Sri Sultan Hamengkubowono IX, Bapak Pramuka Indonesia (Pramuka Jakarta)

KLIK SAJA – Mulanya, gagasan kepanduan sejatinya berakar di Eropa sebelum akhirnya diboyong oleh bangsa Belanda ke Bumi Nusantara.

Sejarah mencatat, cikal bakal pendidikan karakter berbasis alam ini mulai bersemi di Indonesia pada era Hindia-Belanda, tepatnya di Batavia (Jakarta) sekitar tahun 1912 melalui latihan kelompok pandu perdana.

Kelompok perintis tersebut kelak bertransformasi menjadi cabang dari Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO).

Dua tahun berselang, cabang NPO ini resmi mengukuhkan diri sebagai Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV) atau Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda.

Meski mulanya keanggotaan NIPV didominasi oleh anak-anak berdarah Eropa, spirit kepanduan dengan cepat memikat jiwa bumiputera.

Pada tahun 1916, Mangkunegara VII—pemimpin Praja Mangkunegaran Solo—mencetuskan Javaansche Padvinders Organisatie.

Organisasi ini menjadi wadah kepanduan pertama yang khusus dihuni oleh para pemuda Nusantara. Langkah visioner Sang Adipati menyulut nyala api pergerakan, memicu lahirnya berbagai organisasi kepanduan berbasis keagamaan dan kesukuan di tanah air.

Geliat kepanduan di Nusantara yang begitu bergelora menarik perhatian sang tokoh sentral, Lord Robert Baden-Powell.

Bersama anak dan istrinya, Bapak Pandu Dunia ini secara khusus menyambangi Batavia, Semarang, dan Surabaya pada awal Desember 1934 untuk melihat dari dekat aktivitas para pandu lokal.

Kepanduan Indonesia tak sekadar jago di kandang. Anggota pandu Nusantara tercatat ambil bagian dalam Jambore Dunia di Hungaria pada 1933 serta di Belanda pada 1937.

Ajang di Belanda terasa kian membanggakan karena diwarnai keberagaman delegasi dari berbagai suku dan ras yang mewakili Hindia-Belanda.

Di dalam negeri, konsolidasi gerakan terus berlanjut. Salah satu momen monumental terjadi pada 19–23 Juli 1941 di Yogyakarta melalui helatan All Indonesian Jamboree atau "Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem".

Pasca-kemerdekaan, tepatnya sepanjang dekade 1950 hingga 1960, organisasi kepanduan tumbuh bak jamur di musim hujan.

Sayangnya, pemekaran yang terlampau pesat ini dinilai kurang efektif. Rasio kuantitas anggota tak sebanding dengan gempurnya pembentukan organisasi baru.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: pramuka.go.id

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X