Sejarah PELNI dari Masa Ke Masa, Setia Menyatukan Pulau-Pulau di Nusantara

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Rabu, 20 Mei 2026 | 17:20 WIB
KM Leuser, salah satu armada milik Pelni (Labuan Bajo Today)
KM Leuser, salah satu armada milik Pelni (Labuan Bajo Today)

Momentum ini menjadi tonggak penting lahirnya perusahaan pelayaran nasional Indonesia. Nama besar seperti Mr. Ma’moen Soemadipradja dan R. Soena Soerapoetra tercatat sebagai pendiri awal PELNI atas nama pemerintah Indonesia.

Semangat nasionalisme di bidang pelayaran semakin terlihat ketika pemerintah mulai mengganti kapal-kapal milik K.P.M. dengan armada nasional.

Salah satu momen bersejarah terjadi pada 10 Oktober 1956 saat KM Tampomas tiba di Indonesia.

Kapal yang dibangun di galangan KON MY DE SCHELDE, Vlissingen, Belanda itu menjadi simbol kebangkitan armada laut nasional.

Pelayaran perdananya bahkan mengitari Gunung Krakatau di Selat Sunda dengan membawa para pejabat penting negara.

Tak lama kemudian, babak baru pelayaran Indonesia benar-benar dimulai. Pada 20 Maret 1958, pemerintah resmi melarang kapal-kapal K.P.M. beroperasi di perairan Indonesia.

Keputusan ini sekaligus menandai berakhirnya dominasi perusahaan pelayaran kolonial tersebut di Nusantara.

Era Kapal Jerman

Perjalanan PELNI terus berkembang. Pada tahun 1961, status perusahaan berubah dari PT menjadi PN atau Perusahaan Negara, mengikuti kebijakan nasionalisasi perusahaan asing oleh pemerintah Indonesia.

Kemudian pada 17 Maret 1973, statusnya kembali berubah menjadi perusahaan perseroan dengan nama PT PELNI (Persero) yang dikenal hingga saat ini.

Memasuki era 1980-an, PELNI mulai memperkuat armadanya dengan kapal-kapal modern buatan Jerman.

Sebagian besar kapal penumpang perusahaan ini diproduksi oleh galangan terkenal Meyer Werft. Pada tahun 1983, lima kapal baru mulai hadir, yaitu KM Watampone, KM Watudambo, KM Warisano, KM Wakolo, dan KM Wandebori.

Pengadaan kapal dilakukan secara bertahap hingga mencapai 16 unit pada tahun 1996.

Kehadiran kapal-kapal modern tersebut membawa perubahan besar bagi pelayanan transportasi laut Indonesia.

Di atas kapal, penumpang tidak hanya menikmati perjalanan, tetapi juga berbagai fasilitas seperti rumah makan, kafetaria, toko kelontong, bioskop mini, arena pertunjukan musik, mushola, hingga penyewaan konsol permainan seperti PlayStation.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: PELNI

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X