Mengenal Tradisi Merisik dalam Perkawinan Adat Melayu: Berpantun dalam Ta’aruf

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Selasa, 24 Maret 2026 | 20:05 WIB
Ilustrasi Tradisi Merisik (kabupaten bengkalis)
Ilustrasi Tradisi Merisik (kabupaten bengkalis)

Berpantun dalam Tradisi Merisik

Menariknya, salah satu ciri khas dalam prosesi merisik adalah tradisi berbalas pantun. Utusan dari pihak calon mempelai laki-laki biasanya membuka percakapan dengan pantun pembuka, yang kemudian dibalas oleh pihak perempuan.

Balasan tersebut sering disampaikan melalui penghulu telangkai atau wakil keluarga yang dipercaya.

Pantun-pantun yang digunakan bukan sekadar hiburan, melainkan sarat makna kiasan. Melalui pantun, niat disampaikan dengan bahasa yang halus dan penuh etika, sehingga komunikasi antar keluarga tetap terjaga dengan baik.

Hal inilah yang membedakan merisik dengan tradisi pra-lamaran lainnya.

Apabila dalam pertemuan tersebut tercapai kesepakatan, maka proses akan berlanjut ke tahap peminangan.

Pada tahap ini, penyampaian maksud dilakukan dengan bahasa kiasan, pantun, serta pepatah petitih yang bermakna mendalam.

Prosesi biasanya diawali dengan ritual tepak sirih Melayu sebagai simbol penghormatan sekaligus penyatuan dua keluarga.

Tradisi merisik tidak hanya bertujuan untuk memastikan status seorang gadis, tetapi juga memiliki makna yang lebih luas, yaitu menjaga keharmonisan hubungan antar keluarga.

Dengan adanya prosesi ini, potensi perselisihan—misalnya karena seorang gadis diperebutkan oleh beberapa pihak—dapat dihindari.

Baca Juga: Mengenal Uang Panai, Tradisi Pinangan Suku Bugis Yang Bergeser Makna

Kedatangan rombongan merisik juga mencerminkan sikap hormat, karena harus disambut langsung oleh orang tua si gadis.

Jika dalam pertemuan diketahui bahwa gadis tersebut telah memiliki pilihan atau terikat dengan pihak lain, maka keluarga pihak laki-laki diajarkan untuk menerima dengan lapang dada yang disampaikan dengan pantun.

Pembicaraan pun dihentikan tanpa menimbulkan konflik, sembari tetap menjaga hubungan baik.

Sebaliknya, jika gadis tersebut belum memiliki ikatan, maka perundingan dapat dilanjutkan pada maksud utama, yaitu menyampaikan keinginan untuk menjodohkan anak laki-laki dengan sang gadis.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X