Dengan adanya regulasi yang jelas, THR kini menjadi hak pekerja yang dilindungi oleh hukum. Perusahaan diwajibkan memenuhi kewajiban tersebut, sementara pekerja memiliki dasar hukum untuk menuntut hak mereka apabila tidak dipenuhi.
Aturan ini juga membantu menciptakan standar yang lebih adil dalam hubungan antara pekerja dan pemberi kerja.
Saat ini, THR tidak hanya dipandang sebagai kebijakan kesejahteraan pekerja, tetapi juga memiliki dampak ekonomi yang luas.
Setiap menjelang hari raya, pencairan THR biasanya meningkatkan daya beli masyarakat secara signifikan.
Tambahan pendapatan tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti membeli bahan makanan, pakaian baru, hingga biaya perjalanan mudik.
Aktivitas konsumsi ini turut mendorong perputaran ekonomi di berbagai sektor, mulai dari perdagangan hingga transportasi.
Selain itu, THR juga memiliki nilai sosial dan budaya yang kuat. Tradisi berbagi, berkumpul bersama keluarga, serta merayakan hari besar keagamaan sering kali didukung oleh keberadaan tunjangan ini.
Profil Singkat Soekiman Wirjosandjojo
Tokoh penting di balik kebijakan awal THR adalah Soekiman Wirjosandjojo (ejaan baru: Sukiman Wiryosanjoyo), yang lahir pada 19 Juni 1898 di Surakarta dan meninggal pada 23 Juli 1974 di Yogyakarta.
Ia merupakan Perdana Menteri Indonesia ke-6 yang menjabat antara 27 April 1951 hingga 3 April 1952 dalam Kabinet Sukiman–Suwirjo. Selain itu, ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri sekaligus ketua umum pertama Partai Masyumi.
Soekiman berasal dari keluarga pedagang dan menempuh pendidikan dokter di STOVIA di Batavia. Ia kemudian melanjutkan studinya di Universitas Amsterdam, Belanda.
Saat berada di Belanda, ia sempat aktif dalam organisasi mahasiswa Perhimpunan Indonesia.
Setelah kembali ke tanah air, Soekiman berpraktik sebagai dokter sekaligus aktif dalam berbagai organisasi Islam, seperti Sarekat Islam dan Majelis Islam A'la Indonesia.
Karier politiknya terus berkembang hingga masa kemerdekaan. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri dalam kabinet Mohammad Hatta serta terlibat dalam Konferensi Meja Bundar.
Saat menjadi perdana menteri, beberapa kebijakan penting yang diambil Soekiman antara lain nasionalisasi Bank Indonesia serta dimulainya sistem tunjangan hari raya bagi pegawai pemerintah.