Sultan Salahuddin pun menyambutnya dengan tangan terbuka, mengira Jepang benar-benar akan menjadi “saudara tua” yang membebaskan bangsa Asia dari penjajahan Barat.
Namun, harapan itu segera berubah menjadi kekecewaan. Janji manis “saudara tua” hanyalah racun berbisa. Jepang ternyata penjajah baru yang lebih kejam dan serakah.
Dengan polisi militernya (Kempetai), mereka menyiksa rakyat tanpa ampun.
Puncak kebiadaban itu muncul ketika tentara Jepang meminta Sultan Salahuddin menyerahkan gadis-gadis Bima untuk dijadikan pelayan seks.
Dalam diam, sang Sultan menolak mentah-mentah permintaan itu. Ia justru menggerakkan rakyat untuk melakukan nikah massal, yang dikenal dengan istilah “nika baronta” (kawin berontak).
Baca Juga: Mengenal Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Pahlawan Nasional Konseptor Wawasan Nusantara
Para orang tua menikahkan putri mereka dengan cepat, baik dengan kerabat dekat maupun jauh, agar terhindar dari kezaliman Jepang. Para penghulu pun sibuk dari rumah ke rumah, menikahkan pasangan muda di tengah malam.
Ketika kekuatan Jepang mulai runtuh pada tahun 1945, rakyat Bima kembali bernapas lega. Pada 14 Agustus 1945, Jepang resmi menyerah kepada Sekutu. Tiga hari kemudian, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Kabar gembira itu baru sampai di Bima pada 2 September 1945, dibawa oleh utusan I Gusti Ketut Puja, Gubernur Sunda Kecil. Sultan Salahuddin pun menyambut berita kemerdekaan itu dengan haru dan penuh syukur.
Seruling Duka Kesultanan
Enam tahun setelah penjajahan Jepang berakhir, kondisi kesehatan Sultan Salahuddin terus menurun. Pada 11 Mei 1951, kapal Bonteku berlayar dari Pelabuhan Bima menuju Jakarta membawa sang Sultan dan keluarganya untuk berobat. Isak tangis rakyat mengiringi kepergian pemimpin yang mereka cintai itu.
Setibanya di Jakarta, Sultan Salahuddin dirawat di Rumah Sakit Cikini selama dua bulan. Menjelang Idulfitri, beliau sempat diperbolehkan pulang, namun tak lama kemudian kesehatannya kembali memburuk.
Pada 11 Juli 1951, di usia 62 tahun, Sultan Salahuddin wafat, meninggalkan duka mendalam bagi rakyat Bima.
Presiden Soekarno turut menyampaikan belasungkawa atas kepergian sang Sultan yang dikenal bijak dan berani.***