Alat musik ini berevolusi dari jenis tanbur kuno yang dikenal di wilayah Khurasan. Bagi para penyanyi rakyat Bakhshi—penjaga tradisi musik, puisi klasik, dan warisan instrumen purba—dutar menjadi bagian tak terpisahkan dari ekspresi seni dan budaya mereka, termasuk dakwah Islam.
Keberadaan Dutar di Uzbekistan
Dutar di Uzbekistan termasuk alat musik petik berdawai dua. Namanya berasal dari dua kata dalam bahasa Iran kuno: du berarti dua, dan tar berarti senar atau dawai.
Panjangnya berkisar antara satu hingga dua meter, berbentuk menyerupai buah pir dengan leher panjang dan papan jari yang ramping, sekilas mirip gitar banjo, namun fret-nya sangat kecil.
Alat musik ini diperkirakan muncul di kalangan para penggembala pada abad ke-15. Kala itu, senarnya dibuat dari usus hewan, sebelum kemudian digantikan dengan sutra yang dipilin, dan kini banyak menggunakan sutra atau nilon.
Badan dutar biasanya dibuat dari kayu murbei dan dihias dengan ukiran tulang. Setelah selesai dirakit, instrumen ini dijemur di bawah terik matahari Asia Tengah selama musim panas.
Para pembuatnya percaya, panas alami inilah yang memberikan nada khas dan kehangatan suara dutar yang tidak bisa ditiru alat musik lain.
Banyak legenda yang mengelilingi dutar, salah satunya tentang pertarungan antarmusisi besar.
Dalam kisah itu, seorang peserta duel diam-diam memotong senar dutar lawannya.
Namun sang lawan tetap bermain hanya dengan satu tangan, memukau penonton, dan akhirnya memenangkan duel tersebut, sekaligus membebaskan saudaranya dari tawanan.
Dutar juga menempati tempat istimewa dalam tradisi musik makom dan shashmakom di Uzbekistan.
Masyarakat percaya bahwa suara dutar mampu mengusir roh jahat.
Baik laki-laki maupun perempuan memainkan alat ini, dan banyak lukisan kuno yang menggambarkan perempuan Uzbekistan tengah bermain dutar dengan anggun.
Teknik Musik Dutar
Teknik bermain dutar berkembang sangat tinggi, dikenal dengan ritme kompleks dan permainan legato yang kaya nuansa.