KLIK SAJA - Salah satu bagian paling ikonik dari pakaian tradisional dari pegunungan Andes adalah “chullo”, topi rajutan tangan yang dibuat dari wol alpaka atau domba.
Chullo bukan sekadar pelindung kepala, melainkan simbol warisan budaya masyarakat pegunungan Andes di Peru.
Topi tradisional ini merupakan salah satu busana tertua di kawasan Andes, dengan akar sejarah yang dapat ditelusuri hingga jauh sebelum era Inca, bahkan ke budaya Nazca dan Paracas.
Sejak masa itu, masyarakat sudah memanfaatkan hewan-hewan khas Amerika Selatan seperti alpaka, llama, dan vicuña bukan hanya sebagai sumber pangan dan hewan pengangkut, tetapi juga untuk menghasilkan tekstil halus dari wolnya.
Wol ini memiliki nilai praktis sekaligus simbolis. Ketika Kekaisaran Inca bangkit pada abad ke-15, keberadaan chullo semakin penting.
Bangsa Inca yang terkenal sebagai penenun ulung mengembangkan teknik memintal dan menenun hingga menghasilkan tekstil berkualitas tinggi.
Baca Juga: Mengenal Tongatong, Alat Musik Perkusi Bambu Dari Filipina yang Mudah Dimainkan
Bagi masyarakat Inca, tekstil bukan hanya kebutuhan sehari-hari, tetapi juga sarat makna spiritual.
Chullo dikenakan oleh berbagai lapisan masyarakat, terutama kaum bangsawan dan pendeta Inca.
Selain berfungsi menghangatkan tubuh di dinginnya pegunungan, chullo juga dipersembahkan sebagai sesajen dalam ritual keagamaan.
Dengan demikian, topi ini memiliki makna ganda: praktis sekaligus simbol status sosial dan identitas budaya.
Desain dan Makna Simbolis
Chullo mudah dikenali berkat bentuknya yang khas: meruncing atau membulat di bagian atas dengan tali telinga panjang yang menjuntai di sisi kepala.