KLIK SAJA - Tongatong adalah alat musik tradisional dari suku Kalinga yang tinggal di bagian utara Pulau Luzon, Filipina.
Instrumen ini berupa tabung bambu yang dimainkan dengan cara dihentakkan ke tanah.
Cara pembuatannya sangat sederhana, cukup dengan memotong bambu di dekat ruasnya.
Panjang tiap ruas berbeda, sehingga setiap tongatong menghasilkan nada yang berbeda. Biasanya, enam orang memainkan enam tongatong, masing-masing dengan pola irama yang berulang.
Sejak tahun 1991, ketika komponis dan etnomusikolog ternama Filipina, José Maceda, mengadakan lokakarya di Suntory Hall, Tokyo, tongatong dan musiknya semakin dikenal dalam ragam musik Asia dan instrumen Asia lainnya.
Instrumen ini bahkan kerap diperkenalkan di ruang kelas Jepang. Pada tahun 2006, tongatong dimasukkan ke dalam buku teks musik wajib untuk pendidikan musik tingkat menengah di Jepang.
Tongatong sangat mudah dimainkan dan dapat dinikmati oleh siapa saja, mulai dari anak-anak TK hingga orang dewasa. Cara memainkannya cukup dengan menghentakkan tabung bambu ke tanah.
Secara tradisional, tongatong digunakan masyarakat Kalinga untuk berkomunikasi dengan roh, terutama dalam ritual penyembuhan.
Namun di masa kini, tongatong juga dimainkan sebagai hiburan dalam sebuah ansambel. Instrumen perkusi ini umumnya dimainkan bersama-sama oleh beberapa orang.
Sekilas seperti angklung Sunda, namun cara membunyikannya dengan menghentakkan ke lantai.
Tongatong terdiri dari serangkaian tabung bambu berongga dengan panjang berbeda, yang dipukul ke tanah dengan sudut tertentu mengikuti pola ritme tertentu.
Baca Juga: Mengenal Geomungo, Alat Musik Dawai Khas Korea yang Tentramkan Jiwa
Panjang tongatong berkisar antara 20–40 cm, tergantung tiap tabungnya. Asal usulnya dapat ditelusuri sejak berabad-abad lalu dari masyarakat Kalinga, kelompok etnis pribumi di Provinsi Kalinga, Filipina Utara.