Bambu memegang peranan penting dalam budaya mereka, dan digunakan untuk membuat berbagai instrumen selain tongatong.
Beberapa di antaranya adalah bungkaka (bambu pembuat dengung), saggeypo (alat tiup bambu mirip seruling pan), dan patteteg (gamelan bambu atau xilofon bambu).
Instrumen-instrumen ini telah dimainkan baik secara individu maupun dalam ansambel selama berabad-abad untuk berbagai keperluan.
Tongatong sendiri awalnya dipakai dalam ritual dan komunikasi dengan roh, namun penggunaannya berkembang seiring waktu.
Tradisi memainkan instrumen ini diwariskan lintas generasi, sehingga muncul variasi dalam penggunaan dan pola ritme di antara keluarga maupun wilayah.
Cara Memainkan Tongatong
Untuk memainkan tongatong, setiap orang memegang satu tabung bambu. Para pemain biasanya duduk atau berlutut membentuk lingkaran, dengan jumlah hingga enam orang.
Tongatong kemudian dihentakkan ke tanah dengan satu tangan, sementara tangan lain menutup atau membuka lubang di bagian atas tabung menggunakan telapak.
Masing-masing pemain memainkan pola irama yang sama, tetapi pada waktu yang berbeda, sehingga menghasilkan musik berulang dengan ritme saling mengisi.
Nada tiap tabung bambu ditentukan oleh panjangnya: semakin panjang tabung, semakin rendah nadanya, karena gelombang getarnya lebih panjang.
Namun kualitas suara dapat diubah tergantung apakah lubang bagian atas ditutup atau dibuka. Jika ditutup, suara menjadi redup karena getaran bambu terhambat.
Jika dibuka, suara dapat beresonansi, menghasilkan nada lebih jelas. Teknik ini menambah variasi dalam kualitas ritme; suara terbuka dan beresonansi biasanya dipakai sebagai ketukan dasar atau penekanan dalam permainan.***