Perjalanan simbol hati berlanjut di dunia seni. Menurut Pierre Vinken dalam The Shape of the Heart, hati pertama kali digunakan sebagai simbol cinta dalam naskah puisi Prancis abad ke-13, Le Roman de la Poire.
Naskah itu menampilkan konsep simbolis “pemberian hati” kepada orang tercinta, meski awalnya diibaratkan dengan buah pir.
Bentuk hati yang lebih mirip dengan versi modern muncul dalam karya Francesco Barberino, seorang penyair Italia.
Dalam manuskrip Documenti D’Amore, Barberino menampilkan Cupid—dewa cinta Romawi—dengan simbol hati seperti yang kita kenal sekarang.
Karya ini menyebar luas, menginspirasi ilustrasi lain, termasuk permadani abad ke-15 berjudul L'offrande du coeur atau “Hadiah Jantung Hati”, yang kini tersimpan di Museum Louvre, Prancis.
Memasuki abad ke-19, simbol hati semakin lekat dengan romantisme. Tradisi Valentine menjadikannya ornamen wajib pada kartu ucapan, hadiah, hingga cokelat.
Simbol ini kemudian merambah budaya populer, mulai dari slogan legendaris “I Love NY” karya Milton Glaser yang melambangkan kecintaan pada Kota New York, hingga ikon nyawa dalam gim The Legend of Zelda (1986). Kini, emoji hati menjadi cara tercepat kita mengekspresikan cinta dan kasih sayang di dunia digital.
Mengapa “Hati” di Indonesia, tapi “Jantung” di Barat?
Menariknya, ada perbedaan budaya dalam penyebutan simbol ini.
Di Barat, simbol cinta merujuk pada jantung—organ yang diyakini sebagai pusat emosi dan kehidupan. Sementara di Indonesia dan budaya Timur, istilah yang digunakan adalah hati.
Dalam pandangan masyarakat kita, hati (atau hati nurani) bukan sekadar organ, melainkan lambang spiritualitas, emosi, bahkan moralitas.
Dari sinilah muncul ungkapan “dari hati ke hati” atau “sakit hati”. Tak heran jika simbol hati di Indonesia lebih kerap dipahami sebagai pusat kasih sayang, ketulusan, dan juga kerapuhan ketika cinta retak.
Lambang hati yang begitu akrab di mata kita ternyata punya sejarah panjang, dari filsafat Yunani, tanaman silphium, seni abad pertengahan, hingga budaya populer modern.
Meski berbeda cara pandang antara Timur dan Barat, maknanya tetap sama: hati adalah simbol universal cinta dan perasaan terdalam manusia.***