Selanjutnya, ketika pekerja menyampaikan permintaan maaf dengan berkata, “Maaf Tuan, saya tidak melihat Tuan,” Harsono tidak merespons dengan pengertian, melainkan makin marah. Bahkan, ia memegang baju pekerja, tindakan fisik yang mengindikasikan ledakan emosi yang lebih besar. Ia lalu bertanya dengan nada menyindir dan menuduh, “Apa kau buta?” Kalimat ini sekali lagi menunjukkan bahwa Harsono tidak berusaha memahami, tetapi justru menyerang secara verbal dan fisik.
Tanggapan Citra yang berkata, “Mas Hr, lepaskan orang itu. Dia baru saja aku marahi. Sudah cukup,” memperkuat gambaran bahwa Harsono telah bertindak berlebihan dan kehilangan kontrol atas emosinya. Kata “lepaskan” menyiratkan bahwa Harsono telah memegang pekerja secara agresif. Citra, yang selama ini diam, akhirnya angkat bicara karena merasa Harsono telah melewati batas.
Baca Juga: Kalimat Yang Tepat Dalam Sebuah Laporan Ilmiah Adalah Nomor
Kemudian, Harsono yang “terkejut dengan suara Citra” menunjukkan bahwa dia tidak menyangka teguran itu datang dari Citra, tetapi ini tidak cukup untuk menghapus kesan wataknya yang dominan dalam adegan ini, yaitu sebagai pribadi pemarah.
Watak lain yang ditawarkan dalam pilihan, seperti pemaaf, tidak berperasaan, tidak peduli, atau acuh, tidak sepenuhnya mencerminkan tindakan Harsono. Ia tidak digambarkan sebagai orang yang tidak peduli atau acuh karena ia justru sangat reaktif. Ia juga tidak pemaaf karena tidak menunjukkan pengampunan terhadap pekerja yang sudah meminta maaf. Sementara itu, meskipun bisa dikatakan tidak berperasaan, watak itu terlalu umum dan tidak sejelas karakter pemarah yang tergambar dominan.
Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah: a. pemarah.
Itulah pembahasan lengkap dari pertanyaan Berdasarkan Penggalan Drama Di Atas, Watak Harsono Adalah. Semoga bermanfaat.
Disclaimer: Artikel ini hanya bersifat sebagai referensi tambahan untuk peserta didik. Jawaban yang tertera di atas bersifat tidak mutlak dan jawaban tersebut bersifat terbuka sehingga bisa dieksplorasi lagi lebih lanjut.***
Artikel Terkait
Dalam Periodisasi Sastra Indonesia Dikenal Periode Dengan Istilah Sastra Melayu Klasik atau Kuno. Adapun Ciri-cirinya Adalah
Di Bawah Ini Adalah Faktor Penentu Keberhasilan Dalam Penulisan Notulen, Yaitu
Pernyataan Di Atas Adalah Penggalan Laporan
Dialog Di Atas Menunjukkan Drama Telah Sampai Pada Bagian
Perilaku Sehat Merupakan Pilar Yang Paling Utama. Hal Ini Karena Komponen Tersebut Ternyata Sangat Berpengaruh Pada Kedua Pilar Lainnya
Kalimat Pertanyaan Yang Tepat Sesuai Isi Paragraf Tersebut Adalah
Kesimpulan Yang Tepat Untuk Karya Tulis Di Atas Berisi Tentang
Penggalan Biografi A.A. Navis Di Atas Menggambarkan
Kalimat Yang Tepat Dalam Sebuah Laporan Ilmiah Adalah Nomor
Cara Pengarang Menampilkan Perwatakan Setiap Tokoh Dalam Karyanya Dapat Dilakukan Dengan Cara Berikut, Kecuali