Suatu saat, tekanan yang terhimpun tidak sanggup lagi ditahan sehingga menghasilkan gempa bumi yang berpusat di sekitar zona penunjaman atau zona subduksi.
Setelah itu, bidang kontak akan merekat lagi sampai suatu saat nanti kembali terjadi gempa bumi besar.
Gempa di zona inilah yang sering memicu terjadinya tsunami sebagaimana terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 lalu.
Komponen kedua berupa gaya horizontal yang sejajar arah palung dan menyeret bagian barat pulau ini ke arah barat laut.
Gaya inilah yang akhirnya menciptakan retakan memanjang sejajar batas lempeng, yang kemudian dikenal sebagai Patahan Besar Sumatra.
Geolog Katili dalam The Great Sumatran Fault menyebutkan, retakan ini terbentuk pada periode Miosen Tengah atau sekitar 13 juta tahun lampau.
Lempeng bumi di bagian barat Patahan Sumatra ini senantiasa bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan 10--30 milimeter (mm) per tahun relatif terhadap bagian di timurnya.
Sebagaimana di zona subduksi, bidang Patahan Sumatra ini sampai kedalaman 10--20 km terkunci erat sehingga terjadi akumulasi tekanan.
Beberapa tempat di Patahan Semangko merupakan pula zona lemah yang ditembus magma dari dalam bumi.
Getaran gempa bumi bisa menyebabkan air permukaan bersentuhan dengan magma.
Maka dari itu, pada saat gempa bumi, kerap terjadi letupan uap (letupan freatik) yang dapat diikuti munculnya gas beracun, sebagaimana terjadi di Suoh, Lampung pada 1933.
Geolog Thomas Fitch seperti dikutip dari Journal of Geophysical Research menyebutkan Sesar Besar Sumatra adalah bagian dari sistem di mana partisi regangan pertama kali dijelaskan dalam tektonik lempeng.
Konvergensi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Sunda tidak tegak lurus dengan batas lempeng di wilayah ini.
Sebaliknya, kedua lempeng bergerak pada sudut miring. Sebagian besar regangan konvergen diakomodasi oleh gerakan dorong pada batas lempeng sesar megathrust yang mendefinisikan Palung Sunda.***