wisata

Menelusuri Jejak Nusantara di Singapura Diantara Nama Jalan dan Perkampungan

Minggu, 10 Mei 2026 | 13:32 WIB
Bencoolen Street di Singapura (Pikiran Rakyat)

Menurut catatan The National Library Singapore, nama “Bencoolen” diambil untuk mengenang Sir Thomas Stamford Raffles, pendiri Singapura modern.

Raffles datang ke Singapura setelah penandatanganan Traktat London, ketika Inggris menyerahkan Bengkulu kepada Belanda dan memperoleh Singapura sebagai gantinya.

Raffles datang bersama sejumlah orang Melayu Bengkulu. Mereka kemudian tinggal di kawasan yang sama dengan Raffles, sehingga daerah tersebut dikenal sebagai Kampong Bencoolen atau Kampung Bengkulu.

Kini, kawasan Bencoolen berkembang menjadi area strategis yang dikelilingi berbagai landmark penting Singapura, seperti Museum Nasional Singapura, Museum Seni Singapura, hingga Galeri Nasional Singapura.

Banda Street, Nama Kepulauan Maluku di Chinatown

Jejak Nusantara lainnya dapat ditemukan di Banda Street, sebuah jalan satu arah di kawasan Chinatown yang menghubungkan Sago Lane dan Dickenson Hill.

Nama “Banda” diyakini berasal dari Kepulauan Banda di Maluku, wilayah yang sejak dahulu terkenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dunia.

Pada masa lalu, Banda Street dikenal ramai oleh pedagang kaki lima yang berjualan hingga malam hari. Banyak di antara mereka menggantungkan hidup dengan menjajakan makanan kepada para pelayat yang datang ke rumah duka di kawasan Sago Lane.

Meski kini tampil lebih modern, Banda Street tetap menyimpan nuansa sejarah yang erat dengan aktivitas perdagangan masyarakat tempo dulu.

Bugis Street, Bukti Besarnya Pengaruh Orang Bugis

Nama Bugis Street tentu sudah tidak asing bagi wisatawan yang berkunjung ke Singapura. Kawasan ini menjadi salah satu pusat belanja dan destinasi populer di negeri tersebut.

Namun di balik kemegahannya saat ini, Bugis Street menyimpan kisah panjang tentang peran masyarakat Bugis dalam perkembangan Singapura.

Baca Juga: Mengenal Luang Prabang, Obyek Wisata Negara Laos Yang Mendunia

Orang Bugis diperkirakan tiba di Singapura pada 1819. Mereka kemudian membangun permukiman di sekitar Telok Ayer dan Kampong Glam yang menjadi cikal bakal Kampong Bugis.

Sebagai pelaut dan pedagang ulung, masyarakat Bugis memiliki peran besar dalam membangun jaringan perdagangan di Singapura pada masa awal perkembangannya.

Halaman:

Tags

Terkini