wisata

Mengenal Situs Megalitik Batu Berak di Lampung Barat, Warisan Peradaban Pra Sejarah

Senin, 23 Maret 2026 | 10:46 WIB
Situs Megalitik Batu Berak (Promedia)

KLIK SAJA – Letaknya tersembunyi di kawasan sejuk perbukitan Lampung Barat, tepatnya di Pekon Pura Jaya, Kecamatan Kebun Tebu, berdiri sebuah warisan sejarah yang menyimpan kisah panjang peradaban masa lalu: Situs Megalitik Batu Berak.

Situs ini bukan sekadar kumpulan batu kuno, melainkan cerminan kearifan lokal masyarakat adat yang telah bertahan lintas generasi.

Dengan luas sekitar 3,5 hektare, Situs Batu Berak dipenuhi berbagai struktur batu megalitik yang tersebar di seluruh area.

Di antaranya: 38 Dolmen yang diduga digunakan sebagai tempat sesajen , 40 Menhir yang berkaitan dengan ritual keagamaan, 3 Batu Datar yang masih dalam tahap penelitian  serta Batu Umpak yang tersebar luas, meski fungsinya belum diketahui pasti

Keberagaman struktur ini menunjukkan bahwa situs ini dulunya memiliki peran penting dalam kehidupan spiritual masyarakat prasejarah.

Tak hanya itu, di sekitar kawasan juga ditemukan berbagai artefak seperti manik-manik dari kaca dan batu, serta pecahan keramik lokal maupun asing.

Temuan ini mengindikasikan adanya interaksi budaya dengan wilayah lain pada masa lampau.

Sejarah Penemuan dan Asal-usul Nama

Situs ini secara resmi ditemukan pada tahun 1951 oleh Biro Rekonstruksi Nasional, meskipun masyarakat setempat telah mengenalnya sejak 1931.

Penelitian arkeologis yang lebih sistematis baru dilakukan pada tahun 1980 oleh Haris Sukendar.

Nama “Batu Berak” sendiri memiliki makna unik. Kata berak dalam bahasa Sunda berarti “banyak”, sementara bekhak dalam bahasa Lampung berarti “lebar”.

Nama ini menggambarkan kondisi situs yang dipenuhi batu-batu besar yang tersebar luas.

Situs ini juga sempat dikaitkan dengan Kerajaan Skala Brak, meskipun hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menguatkan hubungan tersebut.

Selain bernilai sejarah tinggi, Situs Batu Berak juga memiliki makna spiritual yang kuat. Hingga saat ini, kawasan ini masih dianggap sakral oleh masyarakat setempat dan sering digunakan untuk kegiatan ritual adat.

Halaman:

Tags

Terkini