Meski berada dalam situasi berbahaya, Soeharto tetap melanjutkan kunjungan tersebut. Ia melakukan pertemuan tertutup selama beberapa jam dengan Presiden Bosnia, serta bahkan menyempatkan diri berkeliling kota Sarajevo, yang saat itu masih berada dalam ancaman serangan.
Menariknya, selama kunjungan itu berlangsung, tidak terdengar satu pun tembakan di Sarajevo.
Dalam pertemuan dengan Presiden Bosnia itulah Soeharto menyampaikan gagasan untuk membangun sebuah masjid sebagai hadiah dari Indonesia bagi umat Muslim Bosnia—sebuah simbol solidaritas dan harapan setelah masa perang.
Gagasan itulah yang kemudian terwujud dalam bentuk Masjid Istiklal Sarajevo.***