wisata

Menelusuri Situs Menhir Saruaso, Peninggalan Megalitikum Budaya Minangkabau Kuno

Minggu, 8 Februari 2026 | 00:02 WIB
kumpulan menhir di Saruaso (minang satu)

KLIK SAJA - Di perbukitan Nagari Saruaso, Kabupaten Tanah Datar, berdiri batu-batu tegak yang sekilas tampak sederhana.

Bagi masyarakat setempat, situs batu-batu itu dikenal sebagai Batu Mejan—jejak bisu dari masa yang jauh lebih tua daripada ingatan kolektif kita.

Dalam kajian arkeologi, Batu Mejan disebut menhir, peninggalan tradisi megalitik yang menandai keberadaan peradaban awal di Nusantara.

Salah satu kawasan terpentingnya terletak di Padang Talago, Jorong Talago Gunung, yang secara resmi telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui SK Nomor PM.05/PW.007/MKP/2010.

Berada di ketinggian sekitar 565 meter di atas permukaan laut, Talago Gunung menyuguhkan lanskap yang kerap membuat pengunjung tertegun.

Hamparan savana hijau membentang luas, berpadu dengan garis perbukitan yang bersih dan lapang. Di tengah bentang alam itulah, berdiri 186 nisan batu kuno—sunyi namun sarat makna.

Sebagian besar nisan tersebut polos, tanpa tulisan dan tanpa pahatan. Hanya satu yang menampilkan ukiran.

Bentuknya beragam: pipih, tonggak persegi, hingga silinder, meski dominan menyerupai hulu keris. Hampir seluruhnya menghadap ke selatan pada bagian kepala.

Menariknya, setiap kubur hanya ditandai satu nisan, sebuah ciri yang membedakannya dari tradisi makam Islam kuno di wilayah lain di Sumatera Barat.

Para peneliti menduga, situs ini merupakan jembatan budaya—sebuah kesinambungan antara tradisi megalitik prasejarah dan praktik penguburan Islam awal di Minangkabau.

Nama Nagari Saruaso sendiri bukanlah nama asing dalam sejarah. Di wilayah inilah, menurut berbagai sumber, pernah berdiri Kerajaan Melayapura, yang kemudian berkembang menjadi Kerajaan Minangkabau dan akhirnya Kesultanan Pagaruyung.

Baca Juga: Belajar Kearifan Lokal dan Budaya Megalitikum di Desa Tebara, Sumba Barat

Dalam buku Kesultanan Pagaruyung (2017) disebutkan bahwa Kerajaan Melayapura dan kompleks Rumah Gadang Dara Jingga dibangun sekitar tahun 1347, pada masa kejayaan Adityawarman.

Adityawarman membawa pengaruh besar dari Kerajaan Swarnabhumi—penerus tradisi Sriwijaya di Sumatera setelah runtuh akibat serangan Raja Cola pada abad ke-12.

Halaman:

Tags

Terkini