wisata

Tradisi Unik Tarekat Aboge di Masjid Saka Tunggal Banyumas Kala Ramadan dan Lebaran Tiba

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:08 WIB
Bagian interior Masjid yang terdapat satu tiang Saka Tunggal (bangga bersarung)

Tak jarang, mereka merayakan Idul Fitri pada hari yang berbeda dengan mayoritas umat Islam Indonesia.

Kekhasan juga terlihat dalam pelaksanaan shalat Id. Khutbah disampaikan dalam bahasa Arab tanpa pengeras suara, mengandalkan keheningan dan kekhusyunan jamaah.

Usai shalat, bukan takbir bergema melalui speaker yang terdengar, melainkan lantunan takbir, ratib, tahlil, dan shalawat yang dikumandangkan secara natural, diiringi tabuhan beduk dan terbang (rebana), menciptakan atmosfer spiritual yang sangat khidmat.

Baca Juga: Menyibak Sejarah Masjid Sabilurrosya'ad di Bantul yang Berusia 5 Abad

Rangkaian hari raya diakhiri dengan prosesi silaturahmi yang sangat khas. Para jamaah membentuk barisan panjang mengelilingi masjid, berjabat tangan dan saling meminta maaf lahir batin.

Acara kemudian ditutup dengan kenduri atau slametan di dalam masjid. Masyarakat duduk bersama menyantap hidangan yang dibawa dalam tenong (wadah bertingkat dari anyaman bambu) dan rantang, mempererat tali persaudaraan dalam suasana penuh syukur.

Masjid Saka Tunggal bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah living monument yang masih hidup, bernafas, dan menjadi pusat komunitas.

Setiap kayu, setiap ritual, dan setiap cerita yang melekat padanya mengajarkan kita tentang toleransi, keteguhan tradisi, dan jejak langkah Islam Nusantara yang berwajah teduh.***

Halaman:

Tags

Terkini