wisata

Mengenal Tradisi Metatah, Upacara Adat Potong Gigi Masyarakat Hindu Bali

Jumat, 10 Oktober 2025 | 13:23 WIB
Upacara Adat Metatah (The Asian Parent)

KLIK SAJA - Kehidupan masyarakat adat Bali tidak pernah lepas dari berbagai tingkatan hidup yang diwarnai dengan tradisi dan upacara keagamaan Hindu.

Setiap fase kehidupan memiliki makna spiritual tersendiri dan dirayakan melalui serangkaian prosesi yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat Hindu di Bali.

Sejak seorang bayi masih berada dalam kandungan, kehidupan manusia di Bali telah disertai dengan upacara seperti megedong-gedongan, dilanjutkan dengan nelubulanin saat bayi berusia tiga bulan, otonan sebagai peringatan hari kelahiran, menek kelih ketika seseorang memasuki masa remaja, hingga akhirnya pengabenan sebagai penutup perjalanan hidup di dunia.

Semua prosesi tersebut merupakan bagian dari Manusa Yadnya, yakni persembahan suci untuk memelihara kehidupan manusia menuju kesempurnaan dan kesejahteraan lahir batin.

Di antara berbagai upacara Manusa Yadnya, salah satu yang paling menarik perhatian adalah upacara Metatah, atau yang juga dikenal sebagai Mepandes atau potong gigi.

Upacara ini dilaksanakan ketika seseorang menginjak usia remaja, masa di mana individu dianggap mulai memasuki tahap kehidupan yang lebih kompleks dan penuh tantangan.

Masyarakat Hindu Bali mempercayai bahwa setiap manusia terlahir dengan sifat-sifat keraksasaan dalam dirinya yang, jika tidak dikendalikan, dapat membawa pada penderitaan.

Baca Juga: Mengenal Manatiang Piriang, Skill Unik Layanan Rumah Makan Padang Tak Lekang Jaman

Enam sifat keraksasaan tersebut dikenal dengan sebutan Sad Ripu, yang meliputi hawa nafsu, ketamakan, kemabukan atau kesombongan, kebingungan, kemarahan, dan iri hati.

Melalui prosesi Metatah, seseorang diharapkan mampu menundukkan dan mengendalikan keenam sifat buruk tersebut, menggantinya dengan kebijaksanaan, kesabaran, dan ketenangan batin.

Secara etimologis, kata Metatah berasal dari kata “tatah” yang berarti “pahat”.

Banyak masyarakat yang keliru menganggap bahwa upacara ini dilakukan dengan memotong gigi, padahal sebenarnya hanya dilakukan proses pengikiran terhadap enam gigi bagian atas, yakni dua gigi taring dan empat gigi seri.

Keenam gigi ini melambangkan enam sifat keraksasaan yang harus dikikis dari dalam diri manusia. Setelah proses pengikiran, peserta upacara biasanya diminta mencicipi enam rasa — pahit, asam, pedas, sepat, asin, dan manis — yang masing-masing memiliki makna mendalam.

Rasa pahit dan asam menjadi simbol ketabahan dalam menghadapi kerasnya kehidupan, rasa pedas melambangkan kesabaran untuk menahan amarah.

Halaman:

Tags

Terkini