KLIK SAJA – Pedalaman padang sabana di Kenya dan Tanzania hiduplah suku Maasai yang terkenal bertubuh tinggi dan energik.
Jika di Sudan, terdapat suku-suku memiliki genetik bertubuh sangat tinggi, namun suku Maasai di Kenya dan Tanzania, tak cuma bertubuh tinggi, namun memiliki kelincahan luar biasa di alam.
Usut punya usut, ternyata suku ini memiliki tradisi tarian yang melatih akrobatik dan kelincahannya.
Adumu, yang juga dikenal sebagai tarian lompat Maasai, adalah tarian tradisional yang dilakukan oleh suku Maasai di Kenya dan Tanzania.
Biasanya, tarian energik dan akrobatik ini dipertunjukkan oleh para pemuda prajurit Maasai dalam berbagai acara seremonial, seperti pernikahan, upacara keagamaan, hingga perayaan budaya penting lainnya.
Masyarakat Maasai memiliki sejarah dan budaya yang erat kaitannya dengan tarian Adumu.
Meski asal-usulnya tidak sepenuhnya jelas, tarian ini diyakini berkembang sebagai sarana bagi para prajurit Maasai untuk berlatih menghadapi pertempuran sekaligus menunjukkan stamina, kelincahan, dan kekuatan mereka.
Dalam catatan sejarah lisan Maasai, tarian ini pertama kali dilakukan oleh para prajurit muda sebagai latihan melompat dan meloncat—kemampuan yang sangat penting untuk berburu maupun berperang.
Seiring waktu, Adumu berkembang menjadi tarian yang lebih terstruktur dan ritualistik, hingga akhirnya menjadi bagian dari berbagai acara adat seperti pernikahan, ritual keagamaan, dan festival budaya.
Baca Juga: Mengenal Baranta, Seni Bela Diri Khas Bangsa Hongaria yang Terlupakan
Lompatan vertikal khas para prajurit Maasai lahir dari perpaduan antara ritual budaya, efisiensi biomekanis, dan latihan plyometric yang dilakukan sepanjang hidup mereka.
Tekniknya—dengan tekukan lutut minimal, dorongan eksplosif dari betis dan tendon Achilles, serta pengulangan ritmis—memberikan pelajaran berharga bagi siapa pun yang ingin meningkatkan kemampuan melompat, bergerak lebih lincah, dan membangun kekuatan kaki yang tangguh.
Tarian Adumu ditandai dengan rangkaian lompatan yang dilakukan para penari, biasanya dengan berdiri melingkar dan bergantian melompat setinggi mungkin sambil menjaga tubuh tetap tegak dan lurus.
Para penari mengenakan pakaian tradisional Maasai berupa shúkà berwarna cerah dan perhiasan manik-manik khas, sementara nyanyian serta lantunan tradisional Maasai mengiringi jalannya tarian.