wisata

Mengenal Seraung, Penutup Kepala Berhias Indah Khas Suku Dayak

Selasa, 1 Juli 2025 | 02:12 WIB
Penutup Kepala Seraung Khas Dayak (Instagram Balikpapan Jaman Dulu)

KLIK SAJA – Jika dilihat sepintas, seraung memang mirip dengan caping khas Jawa, namun begitu mata tertumbuk pada motif anyaman dan hiasan etniknya, siapapun akan tahu bahwa penutup kepala ini berasal dari kebudayaan Suku Dayak.

Lebar, berbentuk kerucut, dan sarat makna, seraung adalah simbol budaya yang hidup dalam keseharian maupun ritual masyarakat Dayak, khususnya di Kalimantan.

Seraung tidak hanya berfungsi sebagai pelindung dari terik matahari dan guyuran hujan, tetapi juga mengandung nilai simbolis dan sosial yang kuat.

Dalam berbagai acara adat, upacara keagamaan, atau perayaan panen, seraung dikenakan sebagai lambang status sosial, kedewasaan, dan kebanggaan identitas Dayak.

Penutup kepala ini lebih dari sekadar topi, seraung adalah penanda persatuan.

Dalam konteks budaya, penggunaannya menyatukan masyarakat Dayak dalam ikatan yang kuat, mencerminkan nilai gotong royong dan keberagaman yang dijunjung tinggi.

Dalam kehidupan sehari-hari, seraung digunakan terutama oleh perempuan Dayak saat beraktivitas di hutan atau ladang.

Selain sebagai pelindung kepala, seraung juga dipercaya dapat menjauhkan mereka dari hewan buas.

Ukurannya yang lebar efektif menghalau sinar matahari dan hujan, membuatnya sangat fungsional di iklim tropis Kalimantan.

Menariknya, topi seraung kini tak hanya dikenakan, tetapi juga dipajang sebagai hiasan dinding, dan dibuat dalam ukuran mini sebagai cinderamata yang menarik minat wisatawan.

Popularitas ini turut mendongkrak ekonomi pengrajin lokal di Kalimantan.

Proses Pembuatan dan Keunikan Bahan

Seraung dibuat dari daun sang, sejenis palem lebar yang tumbuh liar di hutan Kalimantan.

Namun karena kelangkaannya, masyarakat kini mengganti dengan daun pandan atau kajang.

Halaman:

Tags

Terkini