KLIK SAJA - Benteng Inong Balee bukan sekadar sisa batu tua di atas bukit. Ia adalah simbol keteguhan, keberanian, dan kepemimpinan perempuan Aceh dalam menghadapi penjajahan.
Terletak di ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut, di timur Teluk Krueng Raya, benteng ini menghadap langsung ke Samudra Hindia—menjadikannya titik strategis pertahanan laut Kesultanan Aceh.
Di sinilah, lebih dari empat abad lalu, Laksamana Malahayati membentuk pasukan perempuan tangguh bernama Laskar Inong Balee.
Malahayati bukan perempuan biasa. Ia adalah laksamana wanita pertama dalam sejarah Kesultanan Aceh dan bahkan di dunia Islam pada masanya.
Setelah kehilangan suaminya dalam Pertempuran Laut Haru melawan Portugis, ia menggagas pembentukan pasukan khusus yang terdiri dari para janda prajurit yang gugur di medan perang.
Kata “Inong” berarti perempuan, sementara “Balee” berarti janda—menjadi identitas kuat yang melekat pada pasukan ini.
Benteng Inong Balee, yang dibangun pada tahun 1599, menjadi markas, tempat pelatihan militer, sekaligus rumah bagi mereka yang ditinggal suami demi mempertahankan tanah air.
Menurut data arkeologis, benteng ini berbentuk persegi panjang berukuran sekitar 60 x 40 meter, dengan dinding batu setebal 2 meter dan tinggi 2,5 meter.
Lubang-lubang setengah lingkaran di dinding berfungsi sebagai tempat memantau kapal-kapal yang masuk ke pelabuhan.
Posisi benteng yang berada di atas bukit membuat pasukan Malahayati dapat mengawasi pergerakan musuh dari Selat Malaka, sekaligus mengatur strategi serangan mendadak yang efektif.
Lebih dari sekadar pertahanan militer, benteng ini juga menjadi pusat diplomasi. Malahayati dikenal luas sebagai tokoh yang sukses menyeimbangkan kekuatan militer dan kepiawaian diplomasi.
Ia tercatat pernah bernegosiasi langsung dengan utusan Ratu Elizabeth I dari Inggris, dan berhasil membuat bangsa Eropa menghormati Aceh sebagai kekuatan regional yang tidak bisa diremehkan.
Kini, meskipun tinggal reruntuhan, Benteng Inong Balee masih menyimpan aura sejarah yang kuat.
Tidak jauh dari lokasi, terdapat Desa Inong Balee—dikenal juga sebagai Desa Janda—yang menjadi saksi bisu bagaimana perempuan Aceh bangkit dari duka menjadi garda terdepan pertahanan bangsa.