KLIK SAJA - Ketika berbicara tentang sejarah kesultanan di Kalimantan, nama-nama seperti Kesultanan Banjar, Kesultanan Pontianak, atau Kesultanan Sambas mungkin lebih dulu muncul di benak banyak orang.
Namun, jauh di Kalimantan Utara, berdiri sebuah kesultanan yang tak kalah penting dalam perjalanan sejarah Nusantara: Kesultanan Bulungan.
Sayangnya, jejak kejayaan kesultanan ini seolah memudar dan nyaris terlupakan dalam bingkai besar historiografi Indonesia.
Kesultanan Bulungan berdiri di wilayah yang kini dikenal sebagai Provinsi Kalimantan Utara.
Pada masa jayanya, wilayah kekuasaannya meliputi pesisir Kabupaten Bulungan, Malinau, Nunukan, Tana Tidung, Kota Tarakan bahkan hingga Sabah.
Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada abad ke-16 dan menjadi kesultanan pada abad ke-18.
Penguasa pertama Kesultanan Bulungan adalah Datuk Mencang yang menikah dengan seorang wanita Dayak bernama Asung Luwan.
Pada tahun 1777, Wira Amir, yang kemudian berganti nama menjadi Aji Muhammad, memeluk Islam dan menjadi Sultan Amiril Mukminin.
Kesultanan ini juga pernah berada di bawah pengaruh Kesultanan Sulu.
Pada tahun 1931, Kesultanan Bulungan mencapai kejayaan pada masa Sultan Maulana Muhammad Djalalluddin.
Jejak fisik yang masih dapat disaksikan hingga hari ini adalah Museum Kesultanan Bulungan, yang terletak di Tanjung Palas, tak jauh dari pusat kota Tanjung Selor.
Secara resmi, wilayah Bulungan bergabung dengan Republik Indonesia melalui Konvensi Malinau pada 7 Agustus 1949.
Saat itu, Bulungan ditetapkan sebagai daerah istimewa, mengingat peran politik dan kulturalnya yang kuat di wilayah utara Kalimantan.