Kecepatan perahu ini bisa mencapai 15–20 knot—luar biasa untuk ukuran perahu layar tradisional.
Bahan utama pembuatannya adalah kayu-kayu pilihan dari hutan Mamuju, seperti tippulu, palapi, dan maqdang, yang dipotong pada waktu-waktu tertentu mengikuti siklus bulan, sebagai bagian dari tradisi spiritual Mandar.
Ciri khas sandeq lainnya adalah cat putih yang melambangkan kesucian.
Dahulu, perahu ini digunakan untuk melaut dan menangkap ikan dengan berbagai jenis sesuai fungsinya: sandeq pangoli untuk perairan dekat pantai, sandeq paroppo untuk perairan dalam, dan sandeq potangnga khusus untuk menangkap ikan terbang.
Meskipun kini banyak nelayan beralih ke kapal bermesin karena efisiensi, sandeq tetap hidup dalam semangat budaya.
Festival Sandeq yang rutin digelar di Sulawesi Barat menjadi ajang pelestarian dan kebanggaan lokal, sekaligus mengingatkan bahwa warisan leluhur Suku Mandar adalah bagian tak tergantikan dari identitas maritim Nusantara.
Sandeq bukan hanya perahu, melainkan manifestasi kecerdasan lokal, semangat petualangan, dan penghormatan pada alam.***