wisata

Mengenal Sandeq, Perahu Tradisional Tercepat Se-Nusantara, Warisan Leluhur Suku Mandar

Selasa, 15 April 2025 | 14:42 WIB
jajaran perahu Sandeq di perairan Sulawesi Barat (Pariwisata Indonesia)

KLIK SAJA - Di perairan Sulawesi Barat, angin laut membawa perahu-perahu ramping berlayar kencang di atas ombak.

Perahu-perahu ini bukan kapal modern bermesin, melainkan perahu layar tradisional warisan leluhur: Sandeq.

Sandeq, yang dalam bahasa Mandar berarti “runcing”, dikenal sebagai perahu layar tercepat di Nusantara, dan merupakan simbol kemegahan budaya maritim Suku Mandar.

Suku Mandar, yang mendiami pesisir barat Sulawesi, telah lama dikenal sebagai pelaut ulung.

Dalam bukunya The Bugis, antropolog Christian Pelras menyebut orang Mandar memiliki keunggulan bukan karena teknologi canggih, melainkan karena kepiawaian menciptakan teknologi penangkapan ikan yang efektif dan adaptif terhadap kondisi lokal.

Salah satu teknologi tersebut adalah perahu rumpon (roppong) dan tentu saja, sandeq.

Sandeq merupakan hasil evolusi panjang dari perahu-perahu kuno seperti pakur, lambo, dan palari.

Pakur, nenek moyang sandeq, dulunya digunakan untuk pelayaran dagang seperti mengangkut kopra ke Pulau Jawa.

Namun bentuknya yang lebih lebar dan penggunaan layar tanjaq persegi membuatnya kurang lincah menghadapi angin laut terbuka.

Inspirasi perubahan datang saat pelaut Mandar bersentuhan dengan kapal-kapal Eropa yang menggunakan layar segitiga.

Sekitar tahun 1930-an, pembuat perahu Mandar mulai memodifikasi desain pakur menjadi sandeq, dengan layar segitiga yang lebih aerodinamis.

Mulai sejak itu, pusat pembuatan sandeq berkembang pesat di daerah Pambusuang dan Karama, Polewali Mandar.

Keunggulan teknis sandeq terletak pada desainnya yang ramping dan runcing di bagian haluan, dengan dua cadik (disebut baratang) di sisi kanan dan kiri untuk menjaga keseimbangan.

Dahulu panjangnya sekitar 8 meter, namun kini mencapai 11 meter, dengan lebar hanya 60–70 sentimeter.

Halaman:

Tags

Terkini