wisata

Masjid Tua Katangka, Saksi Bisu Perlawanan Rakyat Gowa Melawan Penjajah Belanda

Sabtu, 15 Maret 2025 | 12:21 WIB
Masjid Tua Katangka di Gowa (langit 7)

Ketebalan dinding masjid yang mencapai 120 sentimeter menjadi bukti bahwa bangunan ini dirancang untuk bertahan dari serangan musuh.

Lokasi masjid yang strategis, dekat dengan kompleks makam Sultan Hasanuddin dan bekas Istana Tamalate, menjadikannya pusat aktivitas politik dan spiritual Kerajaan Gowa.

Sebuah jalan bernama Batu Palantikang, yang menghubungkan istana dengan masjid, menjadi saksi bisu perjalanan raja dan keluarganya menuju tempat ibadah ini.

Masjid ini juga menjadi menjadi simbol perlawanan rakyat Gowa terhadap penjajahan, terutama pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, yang gigih mempertahankan kedaulatan kerajaannya.

Pengaruh Budaya dalam Arsitektur

Masjid Katangka merupakan perpaduan unik dari berbagai budaya.

Kubah masjid dipengaruhi oleh arsitektur Jawa dan lokal, sementara tiang-tiangnya menunjukkan pengaruh budaya Eropa.

Mimbar masjid, dengan atap yang menyerupai klenteng, menunjukkan pengaruh budaya China.

Baca Juga: Masjid Jami' Nurul Huda, Tertua di Bojonegoro: Jejak Mataram Islam di Jawa Timur

Keramik-keramik khas China yang menghiasi mimbar juga menjadi bukti adanya interaksi budaya antara masyarakat Gowa dengan bangsa asing.

Seiring berjalannya waktu, Masjid Katangka telah mengalami enam kali renovasi.

Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1816 pada masa pemerintahan Sultan Abd Rauf, Raja Gowa XXX.

Renovasi berikutnya dilakukan pada tahun 1884 oleh Sultan Abd Kadir, Raja Gowa XXXII.

Renovasi besar juga dilakukan pada tahun 1963 oleh Gubernur Sulawesi Selatan, diikuti oleh renovasi pada tahun 1971, 1980, dan terakhir pada tahun 2007.

Renovasi terakhir dilakukan secara swadaya oleh pengurus masjid dengan bantuan masyarakat setempat.

Halaman:

Tags

Terkini