Nama ini kemudian melekat hingga kini, menjadi identitas masjid yang berdiri di kawasan Pasar Kliwon, Surakarta.
Simbol Dakwah Islam Perantau Hadramaut
Masjid Jami’ Assagaf tidak hanya sekadar bangunan fisik, tetapi juga simbol dakwah Islam yang dibawa oleh para perantau Hadramaut ke Nusantara.
Kehadiran mereka di Solo pada akhir abad ke-19 membawa pengaruh besar dalam penyebaran Islam, khususnya di kalangan masyarakat Jawa.
Masjid ini menjadi saksi bisu perjuangan dan dedikasi mereka dalam menegakkan syiar Islam.
Hingga kini, Masjid Jami’ Assagaf tetap ramai dikunjungi oleh jamaah, baik dari kalangan keturunan Arab maupun masyarakat umum.
Keberadaannya terus memainkan peran penting dalam menjaga tradisi keislaman dan menjadi pusat kegiatan dakwah di Surakarta.
Lokasi dan Peran Sosial
Kawasan Pasar Kliwon, tempat masjid ini berdiri, merupakan wilayah yang menjadi konsentrasi masyarakat Arab Hadramaut di Solo.
Pada masa kolonial Belanda, pemerintah membagi wilayah berdasarkan kelas ras sosial, dan Pasar Kliwon menjadi salah satu pusat permukiman warga keturunan Arab.
Masjid Jami’ Assagaf pun menjadi pusat kegiatan keagamaan yang juga menyentuh warga lokal.
Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat shalat, tetapi juga sebagai pusat dakwah dan pendidikan Islam.
Kegiatan-kegiatan keagamaan seperti pengajian, majelis taklim, dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) rutin diselenggarakan di sini.
Selain itu, masjid ini juga menjadi tempat penyelenggaraan acara-acara besar, seperti haul Habib Anis bin Alwi Al Habsyi, yang selalu ramai dikunjungi oleh jamaah dari berbagai daerah.