Jika banteng Jawa jantan memiliki panjang tubuh berkisar 200--240 sentimeter (cm) dan berat maksimal 900 kilogram (kg), maka banteng kalimantan ukurannya tak lebih dari 190--225 cm dan berat maksimal 800 kg saja.
Hutan lebat di pedalaman Kalimantan merupakan habitat banteng kalimantan, hal cukup aneh karena Banteng biasanya hidup di daerah lapang.
Populasinya terkonsentrasi di kawasan konservasi Taman Nasional Kutai (Kalimantan Timur) dan Taman Nasional Kayan Mentarang (Kalimantan Utara).
Baca Juga: BRIN Ungkap 14 Provinsi Bertanah Sangat Subur, Dimana Sajakah?
Banteng itu juga dapat ditemui pada hutan nonkonservasi di Belantikan Hulu, Kalimantan Tengah.
Sejumlah literasi menyebutkan, populasi banteng kalimantan jauh lebih sedikit dibandingkan banteng Jawa, bahkan kurang dari 100 ekor.
Hutan Belantikan Hulu letaknya di Kecamatan Belantikan Raya, Kabupaten Lamandau.
Tepat di tengah hutan mengalir Sungai Belantikan yang hulunya berada di Pegunungan Schwaner dan menjadi batas alam antara Kalimantan Tengah dengan Kalimantan Barat.
Desa Nanga Matu yang berada di pesisir selatan Kalteng dan berada paling hulu merupakan salah satu titik pengamatan banteng kalimantan.
Riset awal yang digelar pada 2003 oleh IPB University mendapati adanya informasi dari masyarakat bahwa ada habitat seperti banteng di dalam hutan desa.
Kemudian bukti fisik berupa tanduk, kotoran, dan jejak kaki banteng kalimantan itu.
Bersama para peneliti IPB University, mereka kemudian bergerak untuk mengtahui jumlah populasi banteng kalimantan.
Masyarakat lokal menyebutnya sebagai sopanan dan rada.
Awalnya populasi banteng kalimantan sempat terhitung hingga angka 30 ekor. Tetapi setelah melibatkan pihak Tropical Forest Conservation Aid (TFCA), rupanya jumlah tersebut susut menjadi 20 ekor saja.