KLIK SAJA – Jika setiap kali melihat gambar rekaan para raja bangsawan Aceh terdahulu seperti Teuku Umar, Panglima Polim atau Sultan Iskandar Muda, terdapat hal yang menarik pada penutup kepala mereka.
Penutup kepala khas Aceh itu disebut kupiah meukeutop,sebuah ikon kebangsawanan negeri Serambi Mekah.
Kerajinan kupiah meukeutop telah ada sejak jauh sebelum masa kolonial Belanda. Dahulu, penutup kepala ini dikenal dengan sebutan kupiah tungkop, merujuk pada daerah asalnya di Tungkop, Kabupaten Pidie.
Pada masa Kesultanan Aceh, kupiah meukeutop digunakan oleh para sultan dan ulama sebagai simbol kehormatan dan kewibawaan.
Sementara itu, terdapat pula jenis lain seperti kupiah riman yang lebih umum dipakai oleh kalangan bangsawan hingga masyarakat biasa.
Kupiah meukeutop memiliki bentuk yang khas—tinggi dan lonjong—dengan hiasan lilitan kain sutra berbentuk segi delapan yang disebut tengkulok.
Umumnya, kupiah ini dibuat dari kain berwarna dasar merah dan kuning yang dirajut membentuk lingkaran.
Bagian bawahnya dihiasi motif anyaman berwarna merah, kuning, hijau, dan hitam.
Di bagian tengah terdapat anyaman serupa yang dibatasi oleh lingkaran kain hijau di bagian atas dan hitam di bagian bawah.
Jika diperhatikan dengan saksama, terlihat pula bentuk huruf hijaiyah “lam” pada lingkaran kepala bagian bawah.
Kupiah meukeutop tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna. Secara keseluruhan, kupiah ini terbagi menjadi empat bagian utama yang masing-masing melambangkan nilai kehidupan masyarakat Aceh:
Pada Bagian pertama melambangkan hukum, Bagian kedua melambangkan adat, Bagian ketiga melambangkan qanun (peraturan daerah) dan Bagian keempat melambangkan reusam, yaitu tata cara hidup dan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun
Makna-makna ini mencerminkan kuatnya hubungan antara hukum, adat, dan kehidupan sosial dalam budaya Aceh.
Setiap warna pada kupiah meukeutop juga memiliki filosofi tersendiri: Merah: jiwa kepahlawanan, Hijau: nilai keagamaan, Hitam: ketegasan dan ketetapan hati,Kuning: simbol kerajaan atau negara dan Putih: kesucian dan keikhlasan.