Menyibak Sejarah Masjid Sabilurrosya'ad di Bantul yang Berusia 5 Abad

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Senin, 19 Januari 2026 | 22:23 WIB
Masjid Sabilurrosya'ad Bantul (telusuri)
Masjid Sabilurrosya'ad Bantul (telusuri)

KLIK SAJA - Di antara sejumlah masjid bersejarah di wilayah Bantul, Yogyakarta, Masjid Sabilurrosya'ad menyimpan narasi panjang yang unik dan penuh makna.

Terletak di Dusun Kauman, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak, masjid ini tidak hanya berusia sangat tua—sekitar 540 tahun—tetapi juga memiliki kaitan erat dengan tokoh penting dalam sejarah Nusantara.

Masjid ini dibangun pada tahun 1485 Masehi oleh Raden Trenggono, seorang keturunan bangsawan Kerajaan Demak yang juga merupakan cicit dari Raja Majapahit.

Setelah memperoleh bimbingan agama Islam dari Sunan Kalijaga, Raden Trenggono yang kemudian lebih dikenal dengan nama Panembahan Bodho memutuskan untuk mendirikan tempat ibadah ini.

Julukan "Bodho" konon diberikan Sunan Kalijaga dengan nada humor dan kearifan, karena suatu ketika Raden Trenggono mengira gemuruh ombak Pantai Selatan sebagai tanda serangan Portugis.

Makna “Bodho” bisa berarti rasa rendah diri, karena beliau merasa ilmu agamanya masih belum seberapa alias dalam kebodohan, namun tetap mau belajar dan mensyiarkan Islam.

Sementara gelar "Panembahan" sendiri baru beliau dapatkan kemudian, ketika wilayah Terung telah berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram.

Baca Juga: Masjid Agung Dharmasraya di Sumatera Barat, Berarsitektur Unik dan Berfilosofis Adat Minangkabau

Atas rasa hormatnya yang besar kepada pewaris Adipati Terung, Panembahan Senopati menganugerahi Ki Bodho tanah perdikan yang membentang dari sebelah timur Sungai Progo hingga Gunung Merapi.

Sebagai pemimpin tanah perdikan itulah, beliau menyandang gelar Panembahan.

Meski oleh masyarakat sekitar lebih sering disebut Masjid Kauman—sesuai lokasinya di Kampung Kauman—nama resminya adalah Sabilurrosya'ad, yang dalam bahasa Arab berarti "penunjuk jalan".

Keberadaan Watu Gilang dan Jam Bancet
Keberadaan Watu Gilang dan Jam Bancet (telusuri)

Arsitektur masjid ini memadukan beberapa pengaruh budaya dengan harmonis. Gaya Jawa terasa kuat, diselami nuansa Islami Arab, dan diperkaya oleh jejak akulturasi Hindu-Buddha.

Salah satu bukti akulturasi tersebut adalah keberadaan Watu Gilang, sebuah batu peninggalan umat Hindu yang berfungsi sebagai sarana persembahyangan (yoni), yang kini masih dapat ditemukan di halaman masjid.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X