Mengenal Umeå di Swedia, Kota Paling Feminis di Dunia

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Jumat, 1 November 2024 | 12:05 WIB
Rambu Penyeberangan Jalan Khusus Perempuan di Umea (The Guardian)
Rambu Penyeberangan Jalan Khusus Perempuan di Umea (The Guardian)

KLIK SAJA - Mulai dari tempat pembersihan salju, halte bus, fasilitas umum hingga tim sepak bola, peruntukannya baik bagi perempuan dan laki-laki dianggap dan diperlakukan sama di kota kecil di Skandinavia ini, dengan bertujuan membuat kehidupan lebih bahagia bagi semua orang.

Kota Umeå (diucapkan oo-may-yoh, populasi 134.000) terkenal di Swedia sebagai rumah bagi ide-ide radikal dan "universitas merah" - selama era 70-an, kota ini menjadi tuan rumah sejumlah besar pemogokan mahasiswa dan mahasiswa sayap kiri yang aktif secara politik.

Dilansir dari The Guardian orang di Umeå sangat menyukai punk, yang berarti berkesan bahwa penduduk kotanya memang ‘agak lain’.

Baca Juga: Mengenal Madeira, ‘Hawaii-nya Eropa’, Tempat Kelahiran Cristiano Ronaldo

Hal ni tampaknya menjadi semacam kode yang berarti bahwa Umeå dianggap - dan menganggap dirinya sendiri adalah kota "keren".

Bahkan situs web Visit Umeå , dewan pariwisata setempat, mengklaim bahwa kota ini memiliki "populasi paling berjanggut dan paling banyak bertato di dunia".

Jika demkian, apa yang membuat Umeå menjadi tempat yang luar biasa bagi perempuan? sehingga dijuluki kota paling feminim.

Pada akhir 90an, memang terjadi gerakan feminisme yang radikal di kota kecil di utara Swedia ini.

Iklim yang dingin sepanjang tahun, serta kondisi kota yang ‘terkepung’ hutan khas Skandinavia, membuat para wanita di kota ini perlu membuat sesuatu yang radikal, untuk menunjukkan identitas mereka melawan maskulinitas para lelaki Swedia utara yang berjanggut dan bertato.

Walhasil, hampir semua fasilitas umum di kota ini, sangat memperhatikan kebutuhan wanita dan kesetaraan gender.

Baca Juga: Negara Bebas Visa untuk Indonesia! Salah Satunya Turki Cocok untuk Liburan Akhir Tahun

Salah satu contohnya bahkan ada tempat penyeberangan pejalan kaki yang menggambarkan rambu khusus untuk "perempuan menyeberang"

Berbeda dengan orang Swedia pada umumnya yang cenderung kaku dan tertutup, orang-orang di sini justru  tidak menyukai ruang tertutup dan cenderung terbuka.

Banyaknya pesan kesetaraan gender di berbagai sudut kota, tampaknya, adalah bertujuan untuk hidup yang lebih mudah bagi wanita.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: The Guardian

Tags

Rekomendasi

Terkini

X