KLIK SAJA - Etnis Batak merupakan salah satu suku bangsa di Nusantara yang kaya akan budaya, salah satunya adalah budaya literasi karya tulis.
Budaya tradisi tulis menulis yang diwariskan oleh nenek moyang mereka dikenal dengan nama Pustaha Laklak.
Pustaha biasanya ditulis di atas kulit kayu yang dilipat menggunakan mode concertina (semacam akordion) dan terkadang dilengkapi dengan papan.
Baca Juga: Mengenal Rumah Adat Baileo, Pondasinya Gunakan Tengkorak Manusia
Walaupun bahasa Batak memiliki banyak dialek, akan tetapi bahasa tulis yang digunakan dalam pustaha tetap seragam tanpa mengurangi ciri khas lokalnya.
Di Sumatera Utara, setidaknya ada lima jenis aksara yang ditinggalkan nenek moyangnya.
Kelimanya yaitu Aksara Toba, Aksara Karo, Aksara Mandailing, Aksara Dairi, dan Aksara Simalungun.
Peninggalan lima aksara tersebut yang kemudian dijadikan dasar penulisan karya tulis pustaha laklak etnis Batak.
Naskah-naskah Batak pada umumnya ditulis pada tiga jenis bahan: kulit kayu (laklak), bambu, dan tulang kerbau.
Baca Juga: Mengenal 4 Alat Musik Tradisional Khas Kalimantan, Lambang Keindahan Langgam Borneo
Pustaha Laklak merupakan kitab peniggalan nenek moyang batak yang bertuliskan Aksara Toba.
Mirip dengan sastra La Galigo pada etnis Bugis.
Putaha Laklak yang ada di Sumatera Utara umumnya berisi tentang ilmu-ilmu hitam seperti pangulubalang, tunggal panaluan, pamunu tanduk, gadam, dan lain sebagainya.
Selain itu juga tentang ilmu putih seperti penolak balak dan pagar.