Mengenal Pustaha Laklak, Karya Sastra Kuno Etnis Batak

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Jumat, 10 Januari 2025 | 09:05 WIB
Salah satu manuskrip Pustaha Laklak yang masih terjaga baik (negeri rempah)
Salah satu manuskrip Pustaha Laklak yang masih terjaga baik (negeri rempah)

Ada juga tentang ilmu nujum seperti meramal dengan menggunakan tanda-tanda binatang dan masih banyak ilmu-ilmu lainnya.

Ada juga yang tidak kalah penting ialah rahasia pengobatan tradisional menggunakan ramuan tanaman rempah-rempah.

Konon penulisan Pustaha Laklak  harus diawali dengan ritual yang dipimpin oleh seorang datu dan dilakukan pada hari-hari tertentu.

Maka dari itu, pustaha laklak merupakan suatu kitab sakral yang pembuatannya seperti halnya membuat objek-objek sakral lainnya semisal patung pangulubalang dan tongkat tunggal panaluan.

Pustaha laklak terbuat dari kertas sebuah pohon yang bernama kayu alim.

Kayu ini merupakan salah satu spesies dalam genus Aquilaria yang berasal dari Asia Tenggara, khususnya di hutan hujan tropis baik itu Indonesia, Malaysia, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, maupun di India Utara.

Baca Juga: Mengenal James Logan, Sang Pencetus Nama Indonesia

Di Sumatera Utara, pohon kayu alim dapat dijumpai di daerah Barus Hulu, di sekitar Pardomuan, Kabupaten Dairi dan juga daerah Pulau Raja, Kecamatan Bandar Pulau, serta Kabupaten Asahan.

Kulit kayu tersebut kemudian dikupas dari pokoknya dalam kupasan yang panjangnya dapat mencapai 7 meter dan lebarnya hingga 60 cm tergantung pada besarnya pohon.

Kulit kayu alim ini diolah menjadi buku yang disebut pustaha yang bentuk dan ukurannya berbeda-beda dan tidak memiliki sampul kayu untuk menjilidnya.

Pustaha yang mewah, biasanya menggunakan sampul (lampak) yang memiliki ukiran indah.

Pustaha laklak ini dituliskan berlembar-lembar dengan menggunakan tinta hitam.

Penulisan yang dibuat berlipat-lipat dan bolak-balik memiliki tujuan untuk memudahkan dalam pembacaannya. Sebuah pustaha atau buku terdiri dari laklak dan lampak.

Laklak adalah kertasnya, yaitu lembaran-lembaran sebagai media penulisan, sedangkan lampak adalah sampul bukunya.

Lembaran-lembaran pustaha tersebut berwarna cokelat muda kejinggaan dan terdapat serat-serat halus yang memang menunjukkan bahannya dari kulit kayu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Indonesia.go.id

Tags

Rekomendasi

Terkini

X