Pemerintah Indonesia sebenarnya telah beberapa kali mencoba menggandeng Tesla, menawarkan berbagai kemudahan termasuk pasokan nikel dan insentif fiskal tambahan.
Namun, hingga kini belum ada hasil konkret. Justru Tesla memilih membangun jaringan dan fasilitas distribusi di Malaysia, yang kini menjadi basis operasional Tesla untuk Asia Tenggara.
Wawancara dengan Indomobil Group pada April 2024 juga menunjukkan bahwa pasar kendaraan listrik kelas atas di Indonesia belum cukup besar untuk menarik Tesla masuk secara serius.
Selain itu, tanpa layanan resmi, harga dan perawatan Tesla jadi masalah besar bagi konsumen.
Importir seperti Prestige Motorcars berusaha menjembatani kesenjangan ini melalui program “Tesla by Prestige” yang bekerja sama dengan Tokopedia.
Mereka menawarkan layanan seperti garansi kelistrikan dua tahun, garansi baterai delapan tahun, teknisi keliling (flying ranger), hingga pemasangan wall-charger.
Meskipun inovatif, layanan ini tetap memiliki keterbatasan besar karena tidak berasal langsung dari Tesla Inc.
Masalah utama lainnya adalah rantai pasok dan software. Tanpa jaringan resmi, suku cadang harus diimpor satu per satu dengan biaya tinggi dan waktu tunggu lama.
Selain itu, fitur seperti Autopilot dan pembaruan perangkat lunak kerap terkendala karena unit Tesla di Indonesia tidak terhubung dengan sistem regional resmi.
Bahkan, tidak adanya jaringan Supercharger juga membuat pengalaman pengguna Tesla tidak optimal.
Sebaliknya, pemain seperti BYD, Wuling, Hyundai, dan Kia lebih cermat membaca peluang.
Mereka membangun pabrik di Indonesia, menggandeng APM resmi, dan memenuhi persyaratan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Hasilnya? Harga kompetitif, layanan purna jual terjamin, dan distribusi merata.
Pemerintah Indonesia patut diapresiasi atas berbagai insentif untuk kendaraan listrik.
Namun, tantangan ke depan adalah menciptakan ekosistem pendukung yang lengkap: dari infrastruktur pengisian daya (charging station), rantai pasok baterai, hingga kepastian hukum investasi.