Angka tersebut memperlihatkan bahwa pendekatan sirkular bukan hanya berdampak ekologis, tetapi juga ekonomis.
Transformasi Sosial dan Kelembagaan
Sebelum program berjalan, petani cenderung bekerja secara individual dan bergantung pada tengkulak.
Biaya produksi relatif tinggi, posisi tawar lemah, dan serangan hama kerap mengancam hasil panen.
Kini, petani terorganisir dalam empat kelompok tani resmi yang dibentuk melalui Surat Keputusan Desa.
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) berperan sebagai simpul pasar yang memperkuat distribusi dan posisi tawar hasil panen.
Sebanyak 869 penerima manfaat langsung dan 9.874 penerima manfaat tidak langsung tercatat dalam program ini.
Dari jumlah tersebut, 68 individu berasal dari kelompok rentan termasuk buruh tani, lansia, keluarga pra-sejahtera, hingga mantan pelaku pertambangan tanpa izin yang kini terlibat aktif dalam sistem ekonomi desa.
Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap program mencapai 90,82 persen.
Model Keberlanjutan Berbasis Ekosistem
Sekretaris Perusahaan PT ANTAM Tbk, Wisnu Danandi Haryanto, menyampaikan bahwa Garitan Kalongliud mencerminkan pendekatan keberlanjutan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial secara utuh.
Baca Juga: Jangan Sampai Terlewat! Jadwal Imsakiyah 1447 H Kabupaten Solok 19 Feb–20 Maret 2026
Menurutnya, model pertanian sirkular yang dikembangkan di Kalongliud diharapkan dapat menjadi referensi penguatan desa berbasis potensi lokal, sekaligus mendukung strategi keberlanjutan perusahaan dalam menjaga stabilitas sosial dan lingkungan di sekitar wilayah operasional.
Perjalanan Kalongliud menunjukkan bahwa pemulihan desa tidak selalu harus dimulai dari intervensi besar.