Garitan Kalongliud ANTAM, Model Pertanian Sirkular Terpadu Pulihkan Lahan Tidur dan Naikkan Pendapatan Petani 65 Persen

photo author
- Senin, 23 Februari 2026 | 12:21 WIB
Garitan Kalongliud ANTAM, Model Pertanian Sirkular Terpadu Pulihkan Lahan Tidur dan Naikkan Pendapatan Petani 65 Persen
Garitan Kalongliud ANTAM, Model Pertanian Sirkular Terpadu Pulihkan Lahan Tidur dan Naikkan Pendapatan Petani 65 Persen

KLIK SAJA - Desa Kalongliud di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, pernah berada pada titik rapuh ketika bencana alam dan tekanan ekonomi datang hampir bersamaan.

Pada 2020, banjir dan longsor merusak jaringan irigasi desa secara menyeluruh.

Sekitar 150 hektar lahan pertanian mengalami kekeringan, sementara puluhan petani dan ratusan buruh tani kehilangan stabilitas mata pencaharian.

Kondisi tersebut diperberat oleh pandemi COVID-19. Aktivitas ekonomi melambat, daya beli turun, dan ancaman krisis pangan mulai terasa.

Baca Juga: Informasi Pendaftaran Arus Balik Gratis 2026 Bareng BPKH Keberangkatan dari Lampung – Yogya – Solo – Surabaya Menuju Jakarta

Seiring waktu, sebagian lahan pertanian berubah menjadi lahan tidur. Desa menghadapi risiko krisis ganda: ketahanan pangan melemah dan ekonomi rumah tangga tertekan.

Dari situasi inilah lahir Garitan Kalongliud. Program ini diinisiasi oleh Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor dari PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) bersama masyarakat desa.

Garitan Kalongliud tidak dirancang sebagai bantuan sosial jangka pendek, melainkan sebagai model pertanian sirkular terpadu berbasis komunitas yang menyentuh aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial secara bersamaan.

Pendekatannya mencakup pemanfaatan lahan tidur, efisiensi sumber daya air, pengelolaan limbah organik, hingga penguatan kelembagaan petani.

Lahan Tidur Kembali Produktif

Perubahan mulai terlihat di lapangan. Sebanyak 35 hektar lahan tidur berhasil dipulihkan menjadi lahan produktif.

Baca Juga: Informasi Mudik Gratis BUMN 2026 Bersama Kimia Farma Dibuka 25 Februari Tujuan Semarang – Solo – Yogyakarta – Padang – Surabaya

Limbah lokal, termasuk kotoran ternak domba, diolah menjadi pupuk organik.

Sekitar 25 ton kotoran domba dimanfaatkan dalam sistem budidaya, sehingga penggunaan pupuk kimia berhasil ditekan hingga 50 persen.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dita Nilan Karlasari

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X