Biaya produksi menurun, sementara kualitas tanah membaik secara bertahap.
Inovasi lokal juga berkembang. Hama keong yang sebelumnya merusak lahan budidaya kini dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik cair. Masalah lama berubah menjadi solusi baru.
Efisiensi Air dan Pemulihan Lingkungan
Dari sisi pengelolaan air, penerapan sistem irigasi tetes membawa dampak signifikan.
Teknologi ini meningkatkan efisiensi konsumsi air hingga 60 persen, capaian penting bagi wilayah yang sebelumnya mengalami tekanan sumber daya air akibat kerusakan irigasi.
Upaya pemulihan lingkungan diperkuat melalui penanaman 3.000 pohon di sempadan Sungai Cinyurug.
Program ini berkontribusi pada penurunan emisi karbon sebesar 21,5 ton CO₂eq per musim tanam sekaligus memperkuat daya dukung ekosistem desa.
Dampak Ekonomi Terukur
Manfaat ekonomi mulai dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pendapatan kelompok tani meningkat hingga 65 persen, sementara biaya pupuk turun sekitar 50 persen.
Pada periode budidaya cabai 2024–2025, kegiatan usaha mencatatkan keuntungan sebesar Rp246.258.000.
Evaluasi berbasis Social Return on Investment (SROI) menunjukkan nilai 4,34.
Artinya, setiap satu rupiah investasi menghasilkan lebih dari empat rupiah manfaat sosial.