Kondisi ini memperlihatkan betapa data administratif sering kali tertinggal dari realitas lapangan.
Kemensos memilih tidak terpaku pada sistem yang kaku.
Selama anak tersebut masuk kategori miskin atau miskin ekstrem, akses pendidikan tetap dibuka.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat tidak hanya soal sekolah, tetapi juga soal kehadiran negara.
Baca Juga: Smartwatch Kopilot ATR 42-500 Masih Terdeteksi Bergerak, Tim SAR Ungkap Penjelasan Lengkap
Negara benar-benar datang menjemput anak-anak yang terpinggirkan.
5. Fokus pada Miskin dan Miskin Ekstrem
Robben Rico menegaskan bahwa Sekolah Rakyat secara tegas menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Program ini tidak ditujukan untuk kelompok abu-abu atau yang masih memiliki akses pendidikan layak.
Prinsip seleksi dibuat ketat agar tidak terjadi salah sasaran.
Dengan metode verifikasi berlapis, Kemensos ingin memastikan setiap kursi Sekolah Rakyat benar-benar bermakna.
Pendidikan diposisikan sebagai alat mobilitas sosial, bukan sekadar program simbolik.
Baca Juga: KPK Temukan Uang 2,6 Miliar Rupiah Dalam Karung Saat OTT Bupati Pati Sadewo
Anak-anak yang selama ini hidup di pinggiran sistem diberi peluang yang sama untuk bangkit.
Inilah wajah lain dari kebijakan sosial berbasis empati.