Sebuah luka yang mungkin tak akan pernah benar-benar sembuh.
Rumah Hancur, Kenangan yang Tersisa di Tengah Puing
Kini rumah mereka hanya tinggal puing dan kayu berserakan di halaman.
Tak ada lagi tempat pulang yang utuh, selain kenangan.
Baca Juga: Libur Akhir Tahun 2025 Tiket Pesawat dari Semarang Jadi Rebutan, Ini Daftar Harga Terbarunya!
Sang ayah bercerita, setiap pulang kerja ia selalu teringat Mumtaz yang dulu minta diajak jalan-jalan.
Rutinitas kecil itu kini berubah jadi rindu yang menyesakkan.
Di antara sisa bangunan, ia seolah masih melihat bayangan anaknya berlari kecil.
Bencana ini bukan hanya merenggut nyawa, tapi juga masa depan yang pernah mereka bayangkan.
Garoga pun jadi ladang kenangan yang pahit dan setiap sudut desa menyimpan cerita kehilangan.
Garoga Jadi Prioritas, Kayu dan Longsor Masih Mengintai
Pemerintah kini memprioritaskan pembersihan kayu gelondongan di wilayah Garoga.
Baca Juga: Setengah Karung Dibayar Keringat, Kisah Warga Simaninggir Menjemput Bantuan Lewat Jalur Berbahaya
Kementerian Kehutanan melakukan tiga langkah utama, mulai dari pembersihan di hilir, pemantauan titik longsor di hulu, hingga peringatan dini potensi banjir susulan.
Ancaman belum sepenuhnya pergi, sementara warga masih trauma.