Ia adalah cermin bahwa di balik setiap bencana, ada luka kecil yang sering luput dari perhatian, luka anak-anak.
Dari tenda pengungsian, mereka mengajarkan kita arti kehilangan dengan cara yang paling jujur dan polos.
Tidak dengan air mata berlebihan, tapi dengan kalimat sederhana yang menancap di hati.
Semoga cerita ini tak hanya membuat kita terharu, tapi juga tergerak untuk peduli.
Baca Juga: Setengah Karung Dibayar Keringat, Kisah Warga Simaninggir Menjemput Bantuan Lewat Jalur Berbahaya
Karena di balik lumpur dan puing, masih ada harapan yang perlu kita jaga bersama.
Harapan agar mereka bisa kembali menemukan “rumah”, dalam arti yang sesungguhnya.***